MADINAH - Masjid Bir Ali menjadi titik miqot utama bagi jamaah haji dan umrah dari Madinah sebelum menuju Mekkah, dengan ribuan jemaah berkumpul setiap hari untuk memulai ihram. Masjid Bir Ali dikenal sebagai lokasi wajib pengambilan niat ibadah sebelum perjalanan ke Tanah Suci dilanjutkan.
Masjid Bir Ali atau yang memiliki nama resmi Dzulhulaifah terletak di Madinah, Arab Saudi, dan menjadi tempat strategis bagi jamaah dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Dari sinilah jamaah melaksanakan salat sunnah ihram sebelum memulai perjalanan menuju Masjidil Haram di Mekkah.
Setiap tahunnya, terutama saat musim haji dan bulan Ramadan, Masjid Bir Ali dipadati jemaah. Bahkan dalam satu waktu, ribuan orang terlihat memenuhi area masjid untuk melaksanakan tahapan awal ibadah umrah dan haji.
Masjid Bir Ali, Titik Awal Ibadah Haji dan Umrah dari Madinah
Masjid Bir Ali memiliki peran penting sebagai miqot makani, yaitu batas tempat untuk memulai niat ihram bagi jamaah haji dan umrah. Lokasi ini menjadi wajib bagi mereka yang berangkat dari Madinah.
Menurut laporan dari lokasi, jemaah yang tiba di Masjid Bir Ali akan langsung bersiap melaksanakan salat sunnah ihram sebelum mengucapkan niat. “Masjid ini adalah tempat untuk melakukan salat sunnah ihram,” ujar reporter dalam laporan tersebut.
Kawasan ini juga dikenal dengan nama Dzulhulaifah. Secara geografis, lokasi ini menjadi jalur utama yang dilalui jamaah dari Madinah menuju Mekkah.
Dalam praktiknya, jamaah tidak hanya datang untuk beribadah, tetapi juga mengikuti arahan pembimbing atau muthawif agar proses miqot berjalan sesuai syariat.
Sejarah dan Asal-usul Nama Masjid Bir Ali
Nama Masjid Bir Ali memiliki makna historis yang kuat. Kata “bir” dalam bahasa Arab berarti sumur. Dalam catatan sejarah, Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah menggali banyak sumur di kawasan tersebut.
Meski saat ini bekas sumur tidak lagi terlihat, kisah tersebut menjadi bagian penting dari identitas masjid. Selain itu, Masjid Bir Ali juga dikenal dengan nama Masjid Syajarah atau “masjid pohon”.
Nama tersebut merujuk pada peristiwa ketika Nabi Muhammad SAW pernah berteduh di bawah pohon di lokasi tersebut sebelum melaksanakan ihram. Peristiwa ini disebut terjadi saat Nabi menjalankan Umrah Qadha dan Haji Wada.
“Masjid ini dibangun di tempat Nabi Muhammad pernah berteduh di bawah sebuah pohon,” sebagaimana disebutkan dalam laporan tersebut.
Sejarah panjang ini menjadikan Masjid Bir Ali tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga situs penting dalam perjalanan spiritual umat Islam.
Baca Juga: Masjid Ghamamah Madinah, Tempat Rasulullah Salat Istisqa hingga Turun Hujan di Dekat Masjid Nabawi
Lonjakan Jemaah dan Peran Strategis Masjid Bir Ali
Masjid Bir Ali menjadi salah satu titik paling ramai dikunjungi jamaah haji dan umrah. Dalam laporan langsung dari lokasi, terlihat ribuan jamaah dari berbagai penjuru dunia berkumpul di area masjid.
Lonjakan jumlah jemaah biasanya terjadi saat bulan Ramadan dan musim haji. Pada periode ini, hampir seluruh area masjid dipenuhi jamaah yang bersiap mengambil miqot.
Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi pusat aktivitas sebelum perjalanan panjang menuju Mekkah yang berjarak sekitar ratusan kilometer.
Kehadiran petugas dan pembimbing sangat membantu jamaah dalam memahami tahapan ibadah. Mulai dari salat sunnah, niat ihram, hingga persiapan perjalanan dilakukan secara terstruktur.
Dengan peran strategis tersebut, Masjid Bir Ali menjadi titik awal penting dalam perjalanan ibadah umat Islam. Ribuan jamaah memulai langkah spiritual mereka dari tempat ini setiap harinya.
Masjid Bir Ali tidak hanya menjadi lokasi miqot, tetapi juga simbol awal perjalanan ibadah haji dan umrah bagi jamaah dari Madinah. Dengan sejarah panjang dan peran vitalnya, masjid ini terus menjadi pusat aktivitas religius yang tidak pernah sepi.
Setiap jemaah yang datang membawa harapan yang sama, yakni menjalankan ibadah dengan khusyuk dan mendapatkan keberkahan dari perjalanan spiritual mereka.
Editor : Axsha Zazhika