MALANG - Masjid Tiban Turen Malang yang viral karena disebut dibangun jin dalam semalam ternyata memiliki fakta berbeda. Bangunan megah setinggi sekitar 10 lantai ini sebenarnya dibangun secara bertahap oleh santri dan pengurus pesantren selama puluhan tahun, bukan muncul secara tiba-tiba seperti rumor yang beredar di masyarakat.
Masjid Tiban Turen Malang berada di dalam kompleks Pondok Pesantren Salafiyah Biharu Bahri Asali Fadlaailir Rahmah, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Lokasinya yang berada di gang kecil semakin memicu spekulasi publik soal proses pembangunannya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Masjid Tiban Turen Malang menjadi salah satu destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi. Pada hari libur, jumlah pengunjung bisa mencapai ratusan orang per hari, berdasarkan pengamatan di lapangan.
Kronologi Munculnya Isu Masjid Tiban Dibangun Jin
Isu bahwa Masjid Tiban Turen Malang dibangun oleh jin bermula dari minimnya informasi publik terkait proses pembangunan. Warga sekitar mengaku tidak melihat proyek besar seperti penggunaan alat berat atau mobilisasi material dalam jumlah besar.
“Bangunannya kok tiba-tiba sudah tinggi,” menjadi salah satu narasi yang berkembang di masyarakat. Kata “tiban” sendiri dalam bahasa Jawa berarti “tiba-tiba”, yang kemudian memperkuat persepsi tersebut.
Padahal, berdasarkan keterangan pengelola, pembangunan masjid dimulai sejak sekitar tahun 1970-an dan berlangsung secara bertahap. Tidak ada pembangunan instan dalam satu malam seperti yang ramai dibicarakan.
Baca Juga: Motor Listrik Murah Rp5 Jutaan Viral di Media Sosial, Warga Mulai Tinggalkan Motor Bensin
Dokumentasi yang ditampilkan di dalam kompleks menunjukkan progres pembangunan dari tahun ke tahun, mulai dari bangunan sederhana hingga menjadi struktur megah seperti saat ini. Salah satu arsip bahkan memperlihatkan perkembangan sejak era 1990-an hingga 2000-an.
Fakta Pembangunan: Dikerjakan Santri Secara Bertahap
Fakta utama dari Masjid Tiban Turen Malang adalah metode pembangunannya yang unik. Tidak menggunakan kontraktor besar atau firma arsitek ternama, pembangunan dilakukan oleh santri dan masyarakat sekitar secara gotong royong.
Konsep pembangunan bersifat organik, artinya berkembang sesuai kebutuhan. Ketika dana tersedia, pembangunan dilanjutkan. Saat tenaga siap, pengerjaan diteruskan.
Prinsip pembangunan yang diterapkan antara lain:
- Tidak berutang
- Tidak meminta sumbangan secara paksa
- Mengutamakan fungsi spiritual
- Mengedepankan efisiensi dan kekuatan bangunan
“Bangunan ini tidak ujug-ujug ada, tapi berkembang dari tahun ke tahun,” terlihat dari dokumentasi yang dipajang di area pusat informasi.
Masjid ini juga memiliki sekitar 10 lantai dengan fungsi berbeda. Lantai 5 digunakan sebagai tempat salat, sementara lantai lainnya difungsikan untuk aula, ruang istirahat, pusat oleh-oleh, hingga taman dan area edukasi.
Baca Juga: Sejarah Masjid Quba, Masjid Pertama dalam Islam yang Jadi Simbol Awal Hijrah Rasulullah
Selain itu, tercatat berbagai fasilitas seperti akuarium, taman ikan, pusat perbelanjaan, hingga kebun kecil yang menjadi daya tarik tambahan bagi pengunjung.
Daya Tarik Wisata dan Dampak Viral di Media Sosial
Viralnya Masjid Tiban Turen Malang di media sosial turut meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Banyak pengunjung datang karena penasaran dengan isu mistis yang beredar.
Namun setelah masuk, pengunjung justru menemukan sisi lain. Arsitektur megah dengan detail kaligrafi, lorong menyerupai labirin, serta dekorasi bernuansa emas menjadi daya tarik utama.
Baca Juga: Sejarah Masjid Quba, Masjid Pertama dalam Islam yang Dibangun Rasulullah Saat Hijrah ke Madinah
Beberapa area bahkan menjadi spot foto favorit, seperti taman kolam ikan, air mancur, hingga tangga curam yang dikenal sebagai “tangga ekstrem”.
Di bagian lain, terdapat pusat oleh-oleh yang menjual berbagai produk seperti keripik tempe khas Malang, brem, jenang, hingga perlengkapan ibadah. Harga yang relatif terjangkau menjadi nilai tambah bagi pengunjung.
Menariknya, seluruh aktivitas komersial akan dihentikan saat waktu salat. Hal ini menjadi salah satu ciri khas pengelolaan yang tetap mengutamakan fungsi ibadah.
“Kalau waktu salat, semua toko tutup,” menjadi aturan yang konsisten diterapkan di kawasan tersebut.
Baca Juga: Sejarah Masjid Quba, Masjid Pertama yang Dibangun Rasulullah Saat Hijrah ke Madinah
Masjid Tiban Turen Malang bukan dibangun oleh jin dalam semalam, melainkan hasil kerja panjang komunitas pesantren selama puluhan tahun. Kesalahpahaman muncul karena proses pembangunan yang tidak terekspos publik secara luas.
Keunikan arsitektur dan cerita yang berkembang justru menjadi daya tarik tersendiri. Dari sekadar rumor, Masjid Tiban kini menjelma menjadi simbol wisata religi yang memadukan keindahan, spiritualitas, dan budaya lokal.
Pada akhirnya, “keajaiban” Masjid Tiban bukan terletak pada hal gaib, melainkan pada ketekunan manusia yang bekerja dalam diam hingga menghasilkan karya luar biasa.
Editor : Axsha Zazhika