MALANG - Masjid Tiban Malang yang viral karena disebut dibangun jin dalam semalam ternyata memiliki fakta sejarah yang berbeda. Bangunan megah di Turen, Kabupaten Malang ini terbukti merupakan bagian dari pondok pesantren yang dibangun secara bertahap sejak akhir 1970-an oleh para santri dan pengasuhnya.
Isu tentang Masjid Tiban Malang sebagai “masjid jin” beredar luas di masyarakat karena kemegahan bangunannya yang tidak biasa dan lokasinya yang berada di tengah permukiman. Banyak orang mengira bangunan ini muncul secara tiba-tiba tanpa proses pembangunan yang jelas.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pembangunan masjid dilakukan secara bertahap dan melibatkan tenaga manusia, khususnya para santri yang tinggal di pondok pesantren tersebut.
Baca Juga: Motor Listrik Murah Disebut Jadi Kendaraan Masa Depan, Hemat Biaya dan Cocok untuk Kota Besar
Sejarah Masjid Tiban Malang dan Awal Pembangunannya
Sejarah Masjid Tiban Malang bermula dari Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah di Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Pondok ini dirintis oleh almarhum KH Ahmad Bahru Mafdlaluddin Sholeh pada akhir tahun 1970-an.
Menurut keterangan dalam video, pembangunan dilakukan secara bertahap selama puluhan tahun. “Bangunan ini dikerjakan oleh para santri yang tinggal di pondok,” demikian penjelasan narasi video.
Masjid ini tidak dibangun dalam waktu singkat. Justru, prosesnya berlangsung lama dan masih terus mengalami penyempurnaan hingga sekarang.
Data menunjukkan bangunan ini memiliki hingga 10 lantai, menjadikannya salah satu kompleks pesantren paling unik di Indonesia. Selain itu, tercatat sekitar 450 santri dan santriwati yang tinggal dan beraktivitas di dalamnya.
Asal Usul Nama ‘Tiban’ dan Mitos Masjid Jin
Nama Masjid Tiban Malang berasal dari kata “tiban” dalam bahasa Jawa yang berarti “tiba-tiba ada” atau “muncul secara ajaib”. Istilah ini muncul karena masyarakat sekitar tidak melihat proses pembangunan secara langsung.
Faktor lain yang memperkuat mitos adalah desain bangunan yang megah dan berbeda dari masjid pada umumnya. Selain itu, lokasi masjid yang berada di tengah perkampungan dengan akses terbatas membuat aktivitas pembangunan tidak banyak diketahui publik.
Baca Juga: Sejarah Masjid Quba, Masjid Pertama yang Dibangun Rasulullah Saat Hijrah ke Madinah
“Rumor bahwa masjid ini dibangun oleh jin dalam semalam tidak benar,” menjadi penegasan penting dalam penjelasan tersebut.
Menariknya, konsep arsitektur masjid ini disebut berasal dari hasil istikharah sang pendiri. Ide desain bangunan, termasuk interiornya, didapat melalui proses spiritual, bukan melalui perencanaan arsitek profesional.
Hal inilah yang membuat banyak orang menganggap masjid ini “tidak biasa” dan memunculkan berbagai spekulasi.
Keunikan Arsitektur dan Fungsi Setiap Lantai
Keunikan Masjid Tiban Malang tidak hanya terletak pada mitosnya, tetapi juga pada struktur bangunannya. Kompleks ini terdiri dari 10 lantai dengan fungsi yang berbeda-beda.
Baca Juga: Sejarah Masjid Quba, Masjid Pertama dalam Islam yang Dipuji Langsung dalam Al-Qur’an
Lantai 1 hingga 4 digunakan untuk kegiatan utama santri, termasuk tempat ibadah dan aula. Di salah satu lantai terdapat mushola unik dengan pilar berbentuk pohon buatan yang menjulang hingga ke atap.
Lantai 5 hingga 8 difungsikan sebagai area kios yang dikelola oleh santri. Di sini dijual berbagai kebutuhan, mulai dari makanan, pakaian, hingga oleh-oleh bagi pengunjung.
Sementara itu, lantai 10 memiliki konsep unik berupa ruangan menyerupai gua. Dari lantai tertinggi ini, pengunjung dapat melihat keseluruhan kompleks pesantren yang luas dan megah.
Dari sisi visual, bangunan didominasi warna biru, putih, dan emas. Ornamen kaligrafi serta taman terbuka di bagian dalam semakin memperkuat kesan artistik dan religius.
Baca Juga: Sejarah Masjid Quba, Masjid Pertama dalam Islam dengan Pahala Salat Setara Umrah
Keberadaan Masjid Tiban Malang menjadi bukti bahwa kemegahan sebuah bangunan tidak selalu berasal dari teknologi modern, tetapi juga dari ketekunan dan kerja kolektif.
Mitos yang menyebut masjid ini dibangun oleh jin terbantahkan oleh fakta sejarah dan proses pembangunan yang panjang sejak akhir 1970-an.
Dengan 10 lantai, ratusan santri, serta arsitektur unik, masjid ini kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi destinasi wisata religi yang menarik perhatian banyak orang.
Fenomena ini sekaligus mengingatkan pentingnya memahami fakta sebelum mempercayai informasi yang beredar luas di masyarakat.
Editor : Axsha Zazhika