Hari Baik Bangun Rumah Menurut Islam, Ustaz Tegaskan Tak Ada Hari Sial untuk Menikah dan Buka Usaha

Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 20:10 WIB
Hari baik bangun rumah menurut Islam dijelaskan dalam kajian Erje TV. Islam menegaskan semua hari baik dan melarang meyakini hari sial. (Youtube. com)
Hari baik bangun rumah menurut Islam dijelaskan dalam kajian Erje TV. Islam menegaskan semua hari baik dan melarang meyakini hari sial. (Youtube. com)

JAKARTA - Hari baik bangun rumah menurut Islam, termasuk untuk pernikahan maupun membuka usaha, tidak ditentukan oleh penanggalan atau keyakinan tertentu. Dalam penjelasan yang disampaikan melalui kanal YouTube Erje TV, seorang ustaz menegaskan bahwa seluruh hari adalah ciptaan Allah SWT dan tidak ada satu pun hari yang membawa kesialan atau keberuntungan dengan sendirinya.

Penjelasan tersebut disampaikan saat menjawab pertanyaan seorang pendengar bernama Bapak Amin dari Kudus melalui Radio BAS FM Salatiga. Ia menanyakan hukum mencari hari baik untuk membangun rumah, melangsungkan pernikahan, maupun memulai usaha karena kebiasaan tersebut masih banyak dilakukan di lingkungannya.

Menanggapi pertanyaan itu, ustaz menjelaskan bahwa Islam mengajarkan keimanan kepada takdir Allah SWT, bukan kepada mitos mengenai hari tertentu.

Baca Juga: Cara Menghitung Hari Baik Pindah Rumah Menurut Primbon Jawa, Begini Hitungan Neptu dan Naga Bulan

Semua Hari Adalah Ciptaan Allah SWT

Dalam jawabannya, ustaz menegaskan bahwa seluruh hari pada hakikatnya adalah baik karena semuanya merupakan ciptaan Allah SWT.

Ia mengingatkan bahwa seorang Muslim tidak boleh menganggap ada hari yang secara zat membawa kesialan atau keberuntungan.

"Semua hari baik, semua hari baik. Tidak ada hari yang tidak baik karena hari itu ciptaan Allah Subhanahu wa Ta'ala," jelasnya.

Menurutnya, keyakinan bahwa ada hari tertentu yang buruk bertentangan dengan pemahaman tauhid yang diajarkan dalam Islam.

Baca Juga: Nogo Dino dan Nogosari Menurut Primbon Jawa, Begini Cara Menghitung Arah Baik Berdasarkan Hari dan Pasaran

Karena itu, umat Islam diminta menanamkan keyakinan kepada ketetapan dan takdir Allah, bukan kepada penanggalan yang tidak memiliki dasar syariat.

Hadis Melarang Mencela Waktu

Untuk memperkuat penjelasannya, ustaz mengutip hadis yang diriwayatkan Rasulullah SAW.

Dalam hadis tersebut Nabi Muhammad SAW menyampaikan agar manusia tidak mencela waktu.

Hadis itu berbunyi, "La tasubbud dahr" yang berarti janganlah mencela waktu.

Baca Juga: Hari Baik Pindah Rumah Menurut Jawa, Begini Hitungan Petung Nogo Dino Berdasarkan Arah dan Bulan

Kemudian dijelaskan pula hadis qudsi yang menyebut bahwa Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Aku adalah waktu."

Makna dari hadis tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam kajian, adalah Allah SWT yang mengatur pergantian malam dan siang serta jalannya waktu.

Karena waktu berada dalam kekuasaan Allah, maka tidak ada alasan untuk menganggap sebagian hari membawa kesialan.

Mencari Hari Baik Tanpa Dasar Syariat Dinilai Tidak Tepat

Ustaz kemudian menjelaskan bahwa menentukan hari baik berdasarkan dugaan, kepercayaan masyarakat, maupun kalender yang tidak memiliki landasan agama merupakan perbuatan yang tidak tepat.

Baca Juga: Cara Menghitung Hari Baik Pindahan Rumah Menurut Primbon Jawa, Ini Daftar Hari yang Dianggap Paling Baik

Menurutnya, keyakinan seperti itu dapat masuk dalam penyimpangan akidah apabila diyakini sebagai penentu keberhasilan atau kegagalan suatu urusan.

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah pernikahan, pembangunan rumah, maupun usaha tidak ditentukan oleh nama hari.

Yang menentukan adalah izin Allah SWT serta bagaimana seseorang menjalankan aktivitas tersebut sesuai tuntunan syariat.

Karena itu, umat Islam diminta tidak menggantungkan harapan kepada hari tertentu.

Baca Juga: Cara Menghitung Hari Baik Pindahan Rumah Menurut Primbon Jawa, Ini Daftar Hari yang Dianggap Paling Baik

Dijelaskan Melalui Konsep Tatayyur

Dalam penjelasannya, ustaz juga menerangkan istilah tatayyur yang dikenal dalam pembahasan akidah Islam.

Tatayyur berasal dari kata thair yang berarti burung.

Ia menjelaskan bahwa pada masa jahiliah dahulu, masyarakat mengaitkan keberuntungan maupun kesialan dengan burung tertentu.

Apabila seekor burung yang dianggap membawa keberuntungan muncul ketika mereka hendak melakukan suatu rencana, mereka akan merasa optimistis.

Sebaliknya, jika yang terlihat adalah burung yang diyakini membawa kesialan, mereka membatalkan rencana tersebut.

Baca Juga: Hari Baik Pindah Rumah Menurut Jawa, Begini Hitungan Petung Nogo Dino Berdasarkan Arah dan Bulan

Menurut ustaz, kebiasaan itu merupakan bentuk keyakinan yang keliru.

Ia menilai tidak ada perbedaan antara menganggap burung tertentu membawa nasib dengan meyakini hari tertentu sebagai hari sial atau hari keberuntungan.

Keduanya sama-sama mengaitkan hasil suatu peristiwa dengan sesuatu yang tidak memiliki dasar dalam syariat.

Nama Hari Hanya Penamaan Manusia

Lebih lanjut, ustaz menjelaskan bahwa nama-nama hari seperti Senin, Selasa, Jumat, maupun Sabtu hanyalah penamaan yang digunakan manusia.

Baca Juga: Hari Baik Membuka Usaha Menurut Primbon Jawa, Senin Disebut Paling Tepat untuk Memulai Dagang

Hari-hari tersebut tidak memiliki sifat baik atau buruk secara mutlak.

Menurutnya, yang membedakan sebuah hari bukanlah namanya, melainkan amal yang dilakukan manusia pada hari tersebut.

Karena itu, tidak tepat apabila seseorang menganggap hari tertentu lebih membawa keberuntungan dibanding hari lainnya hanya berdasarkan tradisi.

Ia menegaskan bahwa hari Jumat memang memiliki berbagai bentuk ibadah yang dianjurkan dalam Islam.

Namun, keutamaan itu berasal dari syariat yang ditetapkan Allah SWT, bukan karena hari tersebut memiliki kekuatan membawa keberuntungan dalam urusan dunia.

Baca Juga: Hari Baik Pindah Rumah Menurut Jawa, Begini Hitungan Petung Nogo Dino Berdasarkan Arah dan Bulan

Amal Menentukan Baik atau Buruknya Sebuah Hari

Pada bagian akhir penjelasannya, ustaz menegaskan bahwa ukuran baik atau buruk sebuah hari bergantung pada ketaatan seseorang kepada Allah SWT.

Apabila seseorang memilih hari yang dianggap baik tetapi justru melakukan pelanggaran terhadap syariat, maka hari tersebut tidak lagi menjadi baik baginya.

Sebaliknya, ketika seseorang menjalankan aktivitas pada hari apa pun dengan tetap menaati perintah Allah SWT, hari tersebut menjadi hari yang baik.

Ia memberikan contoh, apabila seseorang menetapkan hari tertentu sebagai waktu membangun rumah, menikah, atau memulai usaha, tetapi di dalamnya terdapat pelanggaran terhadap ajaran agama, maka penilaian tentang hari baik menjadi tidak berarti.

Baca Juga: Cara Menentukan Hari Baik Menikah Menurut Primbon Jawa, Begini Rumus Weton yang Dijelaskan Dewi Sundari

Menurutnya, justru pelanggaran terhadap syariat itulah yang menjadikan hari tersebut buruk bagi pelakunya.

Karena itu, fokus utama seorang Muslim bukan mencari tanggal atau hari yang dianggap membawa keberuntungan.

Yang lebih penting adalah memastikan setiap aktivitas dilakukan sesuai tuntunan agama, disertai keimanan kepada takdir Allah SWT dan menjauhi keyakinan yang tidak memiliki dasar dalam Islam.

Baca Juga: Cara Menghitung Hari Baik Boyongan Menurut Primbon Jawa, Lengkap dengan Nogo Dino dan Arah yang Harus Dihindari

Dengan demikian, membangun rumah, menikah, maupun memulai usaha dapat dilakukan pada hari apa saja.

Selama aktivitas tersebut dijalankan dengan cara yang benar dan tidak menyimpang dari syariat, seluruh hari merupakan waktu yang baik karena semuanya adalah ciptaan Allah SWT.

Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari
Sumber : Erje TV
hari baik bangun rumah menurut Islam hari baik menurut Islam tatayyur bangun rumah dalam Islam buka usaha menurut Islam