TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Masyarakat yang lahir di bawah naungan Weton Sabtu Legi pada penanggalan Jawa memiliki keistimewaan watak yang kuat sekaligus hangat bagi lingkungan sekitar. Dalam tradisi kejawen, pertemuan antara hari Sabtu dan pasaran Legi bukan sekadar hitungan kalender, melainkan cermin untuk memahami karakter, cara berpikir, serta pola interaksi seseorang.
Perhitungan primbon menunjukkan bahwa hari Sabtu memiliki nilai neptu 9, sedangkan pasaran Legi berneptu 5. Kombinasi keduanya menghasilkan jumlah Neptu 14 pada Weton Sabtu Legi. Jumlah neptu ini melambangkan sosok yang diibaratkan seperti pohon besar kokoh di tepi sawah, memiliki akar kuat menghujam ke tanah serta memberi keteduhan bagi siapa saja yang berteduh di bawahnya.
Baca Juga: Ruang Publik Ramah Anak Masih Terbatas Ada Ruang Terbuka yang Aman dan Nyaman
Karakter Dasar dan Tantangan Hidup
Pemilik Weton Sabtu Legi dikenal sebagai pribadi yang penuh ketegasan namun menyimpan kelembutan batin. Mereka merupakan sosok yang sangat dapat diandalkan dalam menjalankan tugas. Setiap tanggung jawab yang diberikan akan diselesaikan secara sungguh-sungguh, serta memiliki komitmen tinggi untuk menjaga janji yang telah diucapkan.
Kendati demikian, karakter kuat tersebut juga membawa tantangan tersendiri. Salah satu ujian terbesar Weton Sabtu Legi adalah kecenderungan mempertahankan keyakinan terlalu lama, bahkan saat situasi di sekitarnya sudah berubah. Mereka kerap membutuhkan waktu lebih panjang untuk menerima sudut pandang berbeda, sehingga dituntut untuk belajar mengetahui kapan harus bertahan dan kapan harus melepaskan.
Momentum Wuku Sungsang dan Bulan Besar
Perhitungan penanggalan Jawa pada 13 Juni 2026 menempatkan Weton Sabtu Legi dalam Wuku Sungsang. Dalam tradisi lisan Jawa, kata sungsang kerap diartikan terbalik, yang dimaknai sebagai momentum untuk melihat kehidupan dari sudut pandang berbeda. Pada hari ketujuh Wuku Sungsang, fokus utama adalah menyelesaikan, menyimpulkan, serta memetik hikmah dari siklus waktu yang hampir berakhir.
Bersamaan dengan itu, kalender Jawa juga menempatkan momentum ini di dalam Bulan Besar. Tradisi Jawa memandang Bulan Besar sebagai masa penyempurnaan, yakni fase untuk membersihkan niat, memperhalus batin, dan menyiapkan diri memasuki putaran waktu baru. Proses ini diibaratkan seperti pengrajin keris yang menghaluskan serta membersihkan hasil tempaannya sebelum siap digunakan.
Falsafah Eling Lan Waspada dan Ajaran Luhur
Dalam mengarungi perjalanan hidup, pemilik Weton Sabtu Legi diajarkan untuk memegang teguh laku eling lan waspoda. Eling berarti selalu ingat kepada asal-usul, tujuan hidup, serta Sang Pencipta. Sementara waspada berarti sadar terhadap setiap langkah yang dijalani, tidak larut dalam kesombongan saat berhasil, serta tidak tenggelam dalam keputusasaan ketika menghadapi kesulitan.
Leluhur Jawa juga meletakkan ajaran Memayu Hayaning Bawana sebagai pedoman menjaga keharmonisan dunia batin dan alam semesta. Pemilik Weton Sabtu Legi diingatkan untuk menerapkan tepo seliro atau empati, yakni kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain sebelum menghakimi. Hal ini penting agar ketegasan Weton Sabtu Legi tidak berubah menjadi keras kepala, melainkan menjelma menjadi kebijaksanaan.
Prinsip Drimo Ing Pandum dan Ojo Dumeh
Selain empati, ajaran drimo ing pandum menjadi falsafah penting yang mengajarkan kemampuan menerima hasil usaha dengan lapang dada. Falsafah ini menegaskan bahwa manusia wajib bekerja sekuat tenaga, namun tetap menyadari ada bagian kehidupan yang berada di luar kendali manusia. Prinsip ini memberikan ketenangan hati saat hasil yang didapat tidak sesuai dengan harapan.
Sebagai pengingat agar tidak tinggi hati, ajaran ojo dumeh menekankan agar manusia tidak merasa paling hebat, paling benar, atau paling penting. Kehidupan diibaratkan seperti roda pedati yang terus berputar, sehingga kerendahan hati menjadi kunci utama dalam menghadapi perubahan. Sifat ini diperkuat dengan prinsip sepi ing pamrih rame ing gawe, yaitu bekerja sungguh-sungguh tanpa terikat pada pujian atau penghargaan.
Penanggalan Jawa, weton, dan wuku hadir sebagai sarana refleksi diri untuk memperbaiki budi pekerti secara kritis dan bijak. Pada penghujung Wuku Sungsang di Bulan Besar, pemilik Weton Sabtu Legi diajak untuk mengambil jeda sejenak, menenangkan hati, dan menyiapkan diri memasuki siklus berikutnya dengan kesadaran yang lebih matang.
Sumber : You Tube