JAKARTA - Pindah rumah menurut tradisi Jawa tidak hanya mempertimbangkan kesiapan tempat tinggal, tetapi juga waktu dan arah perpindahan. Dalam kepercayaan orang terdahulu, pemilihan hari dan arah yang tepat dipercaya dapat membawa keberkahan, keselamatan, keberuntungan, serta menjauhkan penghuni rumah dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Pembahasan mengenai tradisi tersebut disampaikan dalam sebuah video di channel Gado-Gado. Menurut penjelasan dalam video, masyarakat Jawa pada masa lalu memiliki perhitungan tersendiri ketika hendak pindah rumah, kontrakan, desa, maupun tempat tinggal lainnya.
Perhitungan tersebut berkaitan dengan pemilihan hari baik dan arah yang dianggap sesuai. Tujuannya, antara lain, agar rumah yang akan ditempati membawa keberkahan dan keselamatan bagi penghuninya.
Baca Juga: Berburu Embun Upas di Dieng, Suhu 3 Derajat dan Rumput Mulai Membeku
Namun, narasi tersebut juga mengakui bahwa cara-cara semacam ini semakin jarang digunakan pada zaman sekarang. Perkembangan zaman membuat masyarakat lebih banyak berpikir kritis dan logis. Sebagian pendapat maupun ritual dari orang terdahulu bahkan dianggap sebagai mitos atau tabu.
Meski demikian, pembahasan itu mengajak masyarakat untuk tetap menghormati kepercayaan dan pengetahuan yang diwariskan generasi sebelumnya.
Perhitungan berdasarkan bulan
Salah satu konsep yang dibahas adalah Naga Tahun. Dalam kepercayaan yang dijelaskan, Naga Tahun berada pada arah tertentu pada bulan-bulan tertentu. Karena itu, orang yang hendak pindah rumah dianjurkan memperhatikan bulan, hari, serta arah perpindahan.
Baca Juga: 7 Wisata Gresik Terbaru dan Populer, Ada Sekapuk Smartland hingga Pantai
Untuk bulan Suro, Safar, dan Mulud, hari yang disebut baik untuk pindah adalah Rabu, Kamis, dan Jumat. Arah perjalanan yang dijelaskan adalah ke barat dan utara sebelum melanjutkan menuju arah rumah yang dituju.
Pola tersebut disebut sebagai cara untuk menghindari atau mengelabui keberadaan Naga Tahun berdasarkan kepercayaan terdahulu.
Selanjutnya, untuk bulan Rabiul Akhir, Jumadil Awal, dan Jumadil Akhir, hari yang disebut baik adalah Jumat, Sabtu, dan Minggu. Arah yang dianjurkan dalam penjelasan tersebut adalah ke selatan kemudian barat sebelum menuju arah tujuan.
Baca Juga: Persib Bandung Juara Dewata Challenge Series 2026 Usai Kalahkan Bali United 3-2
Sementara untuk bulan Rajab, Ruwah, dan bulan puasa, hari yang disebut baik adalah Sabtu, Minggu, Senin, dan Selasa. Arah yang dijelaskan adalah timur kemudian selatan sebelum meneruskan perjalanan menuju rumah baru.
Adapun pada bulan Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah atau Besar, hari yang disebut baik adalah Selasa, Rabu, dan Kamis. Arah yang dianjurkan adalah timur kemudian selatan sebelum melanjutkan ke lokasi yang dituju.
Jika arah jalan tidak memungkinkan
Dalam praktiknya, arah yang disebut dalam perhitungan tersebut belum tentu mudah diterapkan. Video itu mencontohkan kondisi ketika jalan menuju rumah baru sempit, tidak tersedia jalur tertentu, atau arah yang dianjurkan sulit ditempuh.
Baca Juga: Persip Juara Dewata Challenge Series 2026 Usai Comeback 3-2 atas Bali United
Dalam kondisi seperti itu, terdapat cara yang dipercaya dapat digunakan sebagai syarat. Orang yang hendak pindah dapat berputar terlebih dahulu atau mengambil jalur tertentu sebelum meneruskan perjalanan menuju rumah baru.
Misalnya, ketika arah yang dianjurkan adalah timur dan selatan tetapi kondisi jalan tidak memungkinkan, perpindahan dapat diawali dengan memutar sesuai arah yang disebut dalam perhitungan. Setelah itu, perjalanan diteruskan menuju lokasi rumah baru.
Cara tersebut dijelaskan sebagai bentuk syarat untuk menghindari atau menjadi penangkal Naga Tahun. Penekanannya bukan pada perubahan tujuan akhir, melainkan pada arah perjalanan ketika proses pindah rumah dimulai.
Baca Juga: Mengintip Pesona Alam Pantai Drini, Surga Laguna Eksotis Gunungkidul yang Mirip Tanah Lot Bali
Dalam penjelasan video, perhitungan tersebut merupakan bagian dari pengetahuan orang terdahulu mengenai pindah rumah. Tujuannya dipercaya agar tempat tinggal baru tidak menjadi rumah yang dianggap membawa kesialan, penghuni sering sakit, atau muncul pertengkaran dengan anak, istri, saudara, maupun anggota keluarga lainnya.
Meski demikian, pembahasan tersebut tidak memaksa semua orang untuk mengikuti perhitungan tradisional itu. Masyarakat yang tidak mempercayainya tetap diingatkan untuk menghormati warisan pengetahuan dari generasi sebelumnya.
Tradisi memilih hari dan arah ketika pindah rumah pada akhirnya menjadi bagian dari kepercayaan dan adat yang diwariskan. Bagi mereka yang masih mengamalkannya, perhitungan tersebut dapat menjadi pedoman sebelum memulai perpindahan ke tempat tinggal baru.
Source : https://www.youtube.com/watch?v=Owu5iH16tBs
Editor : Latifa Irsyadiyah