TRENGGALEK NJENGGELEK- Nogo Dino menjadi salah satu bagian dari pengetahuan tradisional Jawa yang masih dikenal dalam kehidupan masyarakat. Perhitungan ini berkaitan dengan posisi naga berdasarkan hari dan pasaran, termasuk arah mata angin yang dipercaya dapat memengaruhi perjalanan, perdagangan, hingga kegiatan seperti lamaran dan pindah rumah.
Dalam tradisi tersebut, setiap hari memiliki posisi Nogo Dino yang berbeda. Karena itu, masyarakat yang masih menggunakan perhitungan ini biasanya memperhatikan arah tujuan sebelum melakukan kegiatan tertentu. Keyakinan mengenai keberuntungan atau kerugian akibat arah tersebut merupakan bagian dari kepercayaan adat Jawa dan tidak dapat dianggap sebagai kepastian ilmiah.
Mengenal Posisi Nogo Dino
Dalam penjelasan pada video, posisi Nogo Dino dibagi berdasarkan empat arah utama, yaitu timur, selatan, barat, dan utara. Masing-masing arah ditempati pada hari atau pasaran tertentu.
Disebutkan bahwa Nogo Dino berada di arah timur pada Kamis, Jumat, dan Minggu. Sementara itu, Sabtu dikaitkan dengan posisi Nogo Dino di arah selatan.
Untuk beberapa hari lainnya, posisi Nogo Dino berada di sekitar arah barat dan utara. Senin disebut berada di arah barat laut, sedangkan Jumat berada di arah timur laut.
Selain berdasarkan hari, pasaran juga memiliki posisi tersendiri. Dalam penjelasan tersebut, Kliwon berada di tengah, Pahing di selatan, Pon di barat, Wage di utara, dan Legi di timur.
Pembagian tersebut kemudian digunakan sebagai dasar untuk menentukan arah yang dianggap perlu diperhatikan ketika seseorang hendak melakukan aktivitas tertentu.
Baca Juga: Jalur Dongko-Panggul Terancam Longsor Warga Petung Inisiatif Tutup Pakai Terpal
Nogo Dino dan Perdagangan
Salah satu contoh penggunaan Nogo Dino yang dijelaskan adalah bagi pedagang keliling. Menurut kepercayaan tersebut, seorang pedagang sebaiknya memperhatikan posisi Nogo Dino sebelum menentukan arah perjalanan dari rumah.
Misalnya, ketika Nogo Dino berada di timur, perjalanan menuju timur dipercaya kurang baik. Sebaliknya, pedagang dapat memilih arah lain yang tidak berhadapan dengan posisi Nogo Dino.
Dalam video, dicontohkan kondisi ketika seseorang berdagang pada Jumat Legi dan Nogo Dino berada di timur. Jika pedagang tersebut berkeliling menuju timur, menurut kepercayaan tradisional, dagangannya dipercaya dapat mengalami kesulitan, seperti sepi pembeli atau mengalami kerugian.
Sebaliknya, arah yang berlawanan dengan posisi Nogo Dino dianggap dapat menjadi pilihan dalam perhitungan tradisional tersebut.
Digunakan untuk Menentukan Arah Lamaran
Nogo Dino juga disebut dapat digunakan dalam kegiatan yang berkaitan dengan hubungan keluarga, salah satunya lamaran.
Dalam tradisi tersebut, keluarga yang hendak melamar seseorang dipercaya perlu memperhatikan arah rumah calon pasangan. Hari pelaksanaan kemudian disesuaikan dengan posisi Nogo Dino agar arah perjalanan tidak berhadapan dengan posisi naga.
Tujuannya, menurut kepercayaan tersebut, untuk menghindari berbagai hal yang dianggap kurang baik selama perjalanan maupun ketika tiba di tempat tujuan.
Perhitungan seperti ini menunjukkan bahwa Nogo Dino tidak hanya berkaitan dengan kegiatan ekonomi, tetapi juga dapat dikaitkan dengan berbagai kegiatan sosial dan keluarga dalam tradisi Jawa.
Posisi Nogo Dino Berbeda Setiap Hari
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam Nogo Dino adalah posisinya tidak selalu berada di tempat yang sama. Setiap hari memiliki perhitungan tersendiri.
Karena itu, seseorang yang ingin menggunakan perhitungan Nogo Dino perlu mengetahui hari dan pasaran terlebih dahulu. Setelah posisi naga diketahui, arah tujuan kemudian dibandingkan dengan posisi tersebut.
Dalam penjelasan video, masyarakat juga dianjurkan memahami konsep tersebut sebelum menggunakannya sebagai bagian dari adat atau kebiasaan.
Bagi masyarakat Jawa yang masih memegang tradisi, Nogo Dino dapat dipandang sebagai salah satu warisan pengetahuan leluhur. Sementara bagi masyarakat yang tidak menggunakannya, konsep ini dapat dipahami sebagai bagian dari budaya dan sistem kepercayaan tradisional Jawa.
Yang perlu diperhatikan, anggapan bahwa arah tertentu membawa keberuntungan, kerugian, atau kejadian tertentu merupakan kepercayaan tradisional dan belum menjadi fakta yang terbukti secara ilmiah.
Baca Juga: Lawan Gaptek, Hj Siti Mukiyarti Beri Pelatihan Emak-Emak Manfaatkan AI untuk Dakwah dan Pembelajaran
Editor : Cholifatun NisakSumber : pinterest