Hari Akad Menurut Petungan Jawa, Ini Arah yang Dipercaya Membawa Rezeki

Cholifatun Nisak • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 19:20 WIB
Hari akad dalam petungan Jawa dipercaya punya arah rezeki. Simak arah yang dianggap baik dan pantangan menurut tradisi.
Hari akad dalam petungan Jawa dipercaya punya arah rezeki. Simak arah yang dianggap baik dan pantangan menurut tradisi.

 

TRENGGALEK NJENGGELEK- Hari akad dalam tradisi petungan Jawa dipercaya memiliki arah tertentu yang berkaitan dengan ikhtiar mencari pekerjaan, rezeki, jodoh, hingga karunia. Dalam penjelasan yang beredar melalui kanal Kitab Rimbun, hari akad atau Minggu disebut memiliki arah yang dianggap sebagai “uriping dina” atau hidupnya hari, sekaligus arah yang dipercaya mendukung seseorang dalam mencari nafkah.

Tradisi petungan Jawa memang mengenal perhitungan hari dan arah sebagai bagian dari warisan pengetahuan masyarakat. Perhitungan tersebut biasanya digunakan sebagai pertimbangan ketika seseorang hendak melakukan kegiatan penting, termasuk mencari pekerjaan, bepergian, membuka usaha, maupun menentukan waktu tertentu.

Hari Akad Dipercaya Memiliki Arah Keberuntungan

Dalam penjelasan tersebut, hari akad disebut memiliki dua arah yang dianggap baik, yakni selatan dan timur. Dalam istilah Jawa, arah tersebut disebut ngidul untuk selatan dan ngetan untuk timur.

Arah selatan dan timur dipercaya sebagai tempat “hidupnya hari” bagi seseorang yang sedang melakukan ikhtiar pada hari akad. Karena itu, orang yang hendak mencari pekerjaan, mencari rezeki, memperoleh karunia, atau mengupayakan jodoh disarankan untuk memperhatikan kedua arah tersebut.

Konsep ini tidak sekadar dikaitkan dengan perjalanan secara fisik. Dalam tradisi petungan, arah juga dapat menjadi simbol tujuan atau orientasi seseorang ketika memulai suatu usaha. Seseorang tetap diharapkan menjalankan ikhtiar dengan niat, doa, dan tawakal.

Baca Juga: Jalur Dongko-Panggul Terancam Longsor Warga Petung Inisiatif Tutup Pakai Terpal

Selatan dan Timur Jadi Arah yang Dipilih

Berdasarkan penjelasan dalam video, apabila seseorang hendak memulai kegiatan mencari pekerjaan atau mencari penghidupan pada hari akad, arah selatan dan timur menjadi pilihan yang dipercaya membawa peluang lebih baik.

Arah tersebut dikaitkan dengan kemungkinan memperoleh pekerjaan, rezeki, karunia, bahkan jodoh. Keyakinan ini menjadi bagian dari cara masyarakat Jawa membaca keterkaitan antara hari, arah, dan aktivitas kehidupan.

Namun, konsep tersebut merupakan bagian dari kepercayaan dan tradisi masyarakat Jawa. Tidak terdapat dasar ilmiah yang membuktikan bahwa perjalanan menuju arah tertentu pada hari tertentu secara langsung menentukan datangnya rezeki atau pekerjaan.

Arah Utara dan Barat Menjadi Pantangan

Selain menentukan arah yang dipercaya baik, petungan juga mengenal arah yang dianggap perlu dihindari. Untuk hari akad, arah utara atau ngalor disebut sebagai arah yang menjadi pantangan ketika seseorang hendak mencari nafkah atau rezeki.

Sementara itu, arah barat memiliki posisi berbeda. Dalam penjelasan tersebut, barat disebut sebagai “patining dina”, atau arah yang dianggap sebagai kematian hari. Karena itu, seseorang yang sedang mencari pekerjaan, rezeki, karunia, atau jodoh pada hari akad disarankan tidak mengarah ke barat.

Kepercayaan tersebut memiliki makna simbolis. Arah “patining dina” dianggap dapat mematikan peluang atau usaha yang sedang dilakukan. Dengan demikian, masyarakat yang masih menggunakan petungan dapat menjadikannya sebagai salah satu pertimbangan sebelum melakukan perjalanan.

Petungan Jawa Tetap Menjadi Warisan Budaya

Perhitungan hari dan arah dalam petungan Jawa merupakan bagian dari tradisi yang diwariskan antargenerasi. Praktiknya dapat berbeda antara satu daerah, keluarga, atau sumber primbon dengan lainnya.

Bagi masyarakat yang mempercayainya, petungan dapat menjadi sarana untuk mempersiapkan diri sebelum melakukan aktivitas penting. Namun, dalam kehidupan modern, pertimbangan tersebut tetap dapat ditempatkan sebagai bagian dari budaya, sementara keputusan mengenai pekerjaan, usaha, maupun perjalanan perlu mempertimbangkan kondisi nyata dan perencanaan yang rasional.

Pada akhirnya, penjelasan mengenai hari akad dan arah rezeki tersebut merupakan salah satu bentuk pengetahuan tradisional Jawa. Selatan dan timur disebut sebagai arah “uriping dina”, sedangkan utara dan barat menjadi arah yang dihindari dalam konteks mencari penghidupan menurut petungan yang dibahas.

Baca Juga: Lawan Gaptek, Hj Siti Mukiyarti Beri Pelatihan Emak-Emak Manfaatkan AI untuk Dakwah dan Pembelajaran

Editor : Cholifatun Nisak
Sumber : pinterest
arah rezeki petungan Jawa hari akad Tradisi Jawa Primbon Jawa