Nogo Dino Menurut Bulan Jawa, Simak Arah yang Disebut Perlu Dihindari

Cholifatun Nisak • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 16:59 WIB
Nogo Dino berpindah arah sesuai bulan Jawa. Simak pembagian bulan, arah yang dipercaya perlu dihindari, dan contohnya.
Nogo Dino berpindah arah sesuai bulan Jawa. Simak pembagian bulan, arah yang dipercaya perlu dihindari, dan contohnya.

 

TRENGGALEK NJENGGELEK- Nogo Dino dalam tradisi perhitungan Jawa dipercaya menunjukkan arah yang perlu diperhatikan ketika seseorang hendak melakukan perjalanan atau kegiatan penting. Salah satu penggunaannya yang masih dikenal adalah menentukan arah ketika akan melangsungkan pernikahan atau lamaran. Posisi Nogo Dino disebut berpindah mengikuti bulan dalam kalender Jawa sehingga arah yang dianggap perlu dihindari juga tidak selalu sama.

Dalam penjelasan yang beredar, Nogo Dino yang dibahas secara khusus merupakan Nogo Dino berdasarkan bulan. Perhitungan ini berbeda dari Nogo Dino hari, tahun, maupun jenis perhitungan lainnya. Penjelasan tersebut juga dibuat sebagai panduan sederhana bagi pemula agar lebih mudah memahami empat arah mata angin, yakni timur, selatan, barat, dan utara.

Posisi Nogo Dino Dibagi Empat Arah

Empat arah utama yang digunakan dalam perhitungan adalah timur atau wetan, selatan atau kidul, barat atau kulon, dan utara atau lor. Posisi Nogo Dino kemudian berpindah secara berurutan dari satu arah ke arah berikutnya mengikuti pembagian bulan Jawa.

Siklus tersebut disebut dimulai dari arah timur. Dalam pembagian yang disampaikan, tiga bulan pertama kalender Jawa, yakni Suro, Sapar, dan Mulud, menempatkan Nogo Dino di arah timur.

Artinya, masyarakat yang masih menggunakan perhitungan ini dipercaya perlu menghindari perjalanan atau kegiatan tertentu yang menuju timur pada tiga bulan tersebut.

Setelah melewati tiga bulan pertama, posisi Nogo Dino kemudian berpindah ke selatan.

Bakda Mulud hingga Jumadil Akhir Berada di Selatan

Posisi selatan disebut berlaku pada bulan Bakda Mulud, Jumadil Awal, dan Jumadil Akhir. Pergantian arah ini menjadi bagian penting bagi masyarakat yang hendak menentukan waktu kegiatan besar.

Contohnya, ketika seseorang hendak melamar pasangan dan rumah calon pasangan berada di arah selatan dari tempat asal, perhitungan tradisional tersebut menyebut bulan ketika Nogo Dino berada di selatan sebaiknya dihindari.

Dalam video diberikan ilustrasi bahwa apabila pihak yang hendak melamar berada di utara dan rumah calon pasangan berada di selatan, maka perjalanan tersebut dianggap berhadapan langsung dengan posisi Nogo Dino jika dilakukan pada periode tersebut.

Salah satu pilihan yang disebut adalah menunggu hingga bulan berikutnya ketika posisi Nogo Dino telah berpindah.

Baca Juga: Kenali Potensi sejak Dini, MTsN 1 Trenggalek Buka Delapan Kelas Peminatan

Rajab, Ruwah, dan Poso Nogo Dino di Barat

Setelah Jumadil Akhir, posisi Nogo Dino kembali berpindah ke arah barat. Periode ini disebut berlangsung pada bulan Rajab, Ruwah, dan Poso.

Dengan pembagian tersebut, arah barat menjadi arah yang dianggap perlu dihindari untuk kegiatan tertentu. Misalnya, apabila seseorang yang tinggal di timur hendak menuju rumah calon pasangan yang berada di barat, perjalanan tersebut disebut tidak disarankan dilakukan pada Rajab, Ruwah, atau Poso menurut hitungan tradisional tersebut.

Sebaliknya, masyarakat dapat memilih bulan ketika posisi Nogo Dino telah bergeser ke arah lain.

Syawal, Apit, dan Besar Berpindah ke Utara

Tiga bulan berikutnya, yakni Syawal, Apit, dan Besar, disebut menempatkan Nogo Dino di arah utara. Dengan demikian, rangkaian pembagian bulan Jawa menjadi empat kelompok arah.

Siklusnya dapat dipahami secara sederhana, yaitu Suro-Sapar-Mulud di timur, Bakda Mulud-Jumadil Awal-Jumadil Akhir di selatan, Rajab-Ruwah-Poso di barat, kemudian Syawal-Apit-Besar di utara.

Pembagian ini menjadi dasar bagi mereka yang menggunakan Nogo Dino untuk menentukan waktu dan arah kegiatan tertentu.

Dipakai untuk Pernikahan hingga Lamaran

Nogo Dino disebut masih kerap digunakan dalam konteks acara pernikahan dan lamaran. Dalam tradisi masyarakat Jawa, arah perjalanan menuju rumah calon pengantin dianggap sebagai salah satu hal yang dapat diperhitungkan bersama waktu pelaksanaan.

Namun, penerapannya tidak berhenti pada lamaran. Perhitungan arah juga dapat digunakan sebagai pertimbangan ketika seseorang hendak melakukan perjalanan tertentu atau memulai kegiatan yang dianggap penting.

Jika arah tujuan bertepatan dengan posisi Nogo Dino, sebagian masyarakat memilih menunggu hingga bulan berganti agar posisi tersebut berpindah.

Ada pula anggapan bahwa mengakali arah dengan mengambil jalur memutar tetap perlu diperhatikan karena perhitungan yang digunakan adalah arah asal dan tujuan, bukan semata-mata rute perjalanan di jalan.

Bagian dari Tradisi Perhitungan Jawa

Nogo Dino merupakan bagian dari pengetahuan tradisional dalam budaya Jawa. Perhitungan berdasarkan bulan ini menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa memiliki sistem tersendiri dalam mempertimbangkan waktu dan arah untuk berbagai keperluan.

Dalam praktiknya, keyakinan terhadap pengaruh Nogo Dino berbeda-beda di tengah masyarakat. Sebagian menjadikannya pedoman adat, sedangkan sebagian lainnya melihatnya sebagai warisan budaya.

Perlu dipahami bahwa anggapan mengenai keberuntungan atau larangan arah berdasarkan Nogo Dino merupakan bagian dari kepercayaan tradisional dan tidak memiliki pembuktian ilmiah. Karena itu, penggunaannya lebih tepat ditempatkan sebagai pengetahuan budaya dan bahan pertimbangan bagi masyarakat yang masih menjalankan tradisi tersebut.

Baca Juga: Pekan Demokrasi Digital Libatkan Enam Organisasi

Editor : Cholifatun Nisak
Sumber : pinterest
bulan jawa Pernikahan Jawa Primbon Jawa Nogo Dino kalender jawa