TRENGALEK NJENGGELEK- Hari baik pindah rumah dalam tradisi perhitungan Jawa tidak hanya ditentukan berdasarkan hari dan pasaran. Ada sejumlah tahapan yang perlu diperhatikan, mulai dari mengetahui weton orang yang akan pindah, menentukan arah boyongan, memilih hari, hingga menghindari sejumlah perhitungan seperti Nogo Dino, Nogo Sasi, Nogo Tahun, Rijal Dino, Kolo Wuku, dan Loropati. Metode ini disebut digunakan agar perpindahan rumah atau keberangkatan kerja dapat dilakukan dengan lebih teliti.
Dalam penjelasan yang beredar, boyongan tidak hanya bermakna pindah rumah. Istilah tersebut juga dapat digunakan untuk seseorang yang pertama kali berangkat bekerja ke luar daerah. Penentuan hari dan arah dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar, sedangkan hasil akhirnya tetap diserahkan kepada Tuhan.
Tentukan Weton dan Arah Tujuan
Tahap pertama dalam mencari hari baik pindah rumah adalah mengetahui hari lahir dan pasaran orang yang akan melakukan boyongan. Jika pindah rumah dilakukan bersama keluarga, perhitungan dapat menggunakan weton ayah atau kepala keluarga.
Setelah weton diketahui, arah perpindahan juga harus ditentukan. Misalnya dari timur menuju barat, dari selatan menuju utara, atau arah lainnya. Penentuan ini penting karena nantinya akan dibandingkan dengan sejumlah arah yang dianggap perlu dihindari.
Selain itu, calon hari boyongan juga harus ditentukan sejak awal. Hari tersebut kemudian diperiksa berdasarkan weton, arah, bulan, dan berbagai pantangan dalam hitungan Jawa.
Baca Juga: Kenali Potensi sejak Dini, MTsN 1 Trenggalek Buka Delapan Kelas Peminatan
Gunakan Tiga Pasaran dari Weton Kelahiran
Contoh yang diberikan menggunakan seseorang dengan weton Rabu Pon. Dari pasaran kelahiran tersebut, hitungan tiga langkah digunakan untuk menentukan pasaran yang dapat dipakai.
Urutannya adalah Pon, Wage, dan Kliwon. Sementara pasaran Legi dan Pahing disebut tidak digunakan karena termasuk hitungan yang perlu dihindari dalam contoh tersebut.
Ada pula aturan untuk mempertimbangkan pasaran ketika orang tua telah meninggal. Apabila orang tua meninggal pada pasaran Kliwon, misalnya, maka Kliwon dihindari sehingga pilihan pasaran dalam contoh tinggal Pon dan Wage.
Tahapan tersebut menjadi dasar sebelum memilih hari yang dianggap paling sesuai.
Pilih Hari dan Bulan yang Kategorinya Mulus
Setelah pilihan hari dan pasaran diperoleh, langkah berikutnya adalah melihat kategori hari. Dalam tutorial tersebut, hari yang dianggap mulus berada pada kategori hijau atau kuning. Hal serupa diterapkan pada bulan.
Contoh yang digunakan adalah Senin Pon dalam Wuku Maktal. Hari tersebut disebut masuk kategori yang dapat digunakan untuk boyongan. Bulannya, Jumadil Awal, juga disebut berada pada kategori kuning sehingga masih dianggap dapat dipakai.
Namun, pencarian tidak berhenti pada hari dan bulan. Arah tujuan tetap harus diperiksa secara rinci.
Hindari Enam Perhitungan Arah
Dalam menentukan hari baik pindah rumah, terdapat enam hal yang disebut perlu dihindari, yaitu Nogo Dino, Nogo Sasi, Nogo Tahun, Rijal Dino, Kolo Wuku, serta Loropati.
Pada contoh Senin Pon tersebut, Nogo Dino disebut berada di arah barat daya. Nogo Sasi berada di arah tenggara, sedangkan Nogo Tahun pada bulan Jumadil Awal berada di arah timur.
Rijal Dino dalam contoh tersebut juga berada di timur. Sementara Kolo Wuku untuk Wuku Maktal disebut berada di timur laut.
Setelah itu, hitungan Guru Dino dan Waras Urip turut diperiksa. Arah yang dianggap mengandung Loro atau sakit dan Pati atau kematian perlu dihindari.
Barat Laut Disebut Menjadi Pilihan dalam Contoh
Setelah semua arah diperiksa, hanya arah yang tidak bertepatan dengan enam larangan tersebut yang dapat dipertimbangkan. Dalam contoh tutorial, perpindahan menggunakan Senin Pon dan Wuku Maktal ke arah barat laut disebut sangat baik karena tidak berhadapan dengan posisi Nogo Dino, Nogo Sasi, Nogo Tahun, Rijal Dino, Kolo Wuku, maupun Loro dan Pati.
Karena itu, proses mencari waktu boyongan disebut harus dilakukan secara perlahan dan teliti. Kesalahan membaca satu unsur dapat mengubah hasil perhitungan.
Primbon Sebagai Pedoman Tradisional
Perhitungan hari baik pindah rumah seperti ini merupakan bagian dari tradisi dan pengetahuan Jawa yang diwariskan secara turun-temurun. Setiap daerah atau sumber primbon juga dapat memiliki pakem yang berbeda.
Karena itu, hasil perhitungan tidak dapat dianggap sebagai jaminan keselamatan atau keberuntungan. Bagi masyarakat yang masih menjalankan tradisi tersebut, primbon dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan sebelum mengambil keputusan, sementara persiapan praktis, kondisi perjalanan, keamanan, dan doa tetap menjadi bagian penting dalam proses pindah rumah.
Baca Juga: Weton Jumat Wage 2026, Cek Ramalan Rezeki hingga Karier Berdasarkan Usia
Editor : Cholifatun NisakSumber : pinterest