TRENGGALEK NJENGGELEK - Perahu kunting atau kunthing merupakan salah satu ikon budaya maritim di kawasan Pantai Prigi, Trenggalek.
Keberadaan perahu kunting tidak hanya dikenal dalam tradisi lomba dayung, tetapi juga menyimpan nilai sejarah dan filosofi mendalam yang berasal dari kehidupan nelayan pesisir Prigi Trenggalek.
Menurut anggota Pokmaswas Rembeng Raya Kacuk Wibisono, asal mula perahu kunting di Prigi Trenggalek bermula dari kebiasaan masyarakat tempo dulu yang menggunakan perahu kayu sederhana untuk berburu ikan secara berkelompok di teluk.
Nama "kunting" diyakini berasal dari istilah lokal yang merujuk pada bentuk perahu yang panjang, ramping, dan ringan, sehingga mudah didayung bersama oleh banyak orang.
"Perahu kunting sudah ada sejak lama, bahkan saat saya kecil di dekade 1970-an sudah menemui perahu ini," katanya.
Pria berkulit sawo matang ini melanjutkan, pada zaman dulu, perahu kunting terbuat dari satu batang kayu utuh.
Baca Juga: Kemeriahan Balap Perahu Kunting di Teluk Prigi Trenggalek, Ini Tantangan para Peserta
Namun dengan berjalannya waktu dan demi kepraktisan, perahu kunting tidak lagi dibuat dari batang kayu utuh, melainkan fiber.
"Kendati demikian, bentuknya tidak banyak berubah. Tetap kecil dan lincah saat melaju di atas air," tuturnya.
Seiring waktu, perahu kunting menjadi bagian penting dalam upacara adat dan perlombaan, khususnya dalam momen Labuh Laut Sembonyo, tradisi tahunan nelayan Prigi.
Baca Juga: Kisah Cinta di Balik Tradisi Labuh Laut Larung Sembonyo di Teluk Prigi
Khususnya di Dusun Karanggongso, Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Trenggalek untuk bersyukur atas hasil laut dan memohon keselamatan.
Lomba balap perahu kunting kemudian menjadi simbol kekompakan dan semangat gotong royong, karena setiap tim harus mendayung seirama untuk mencapai garis akhir.
Meskipun tidak lagi digunakan sebagai alat utama mencari ikan, perahu kunting kini dilestarikan sebagai warisan budaya lokal.
Dengan sejarah panjang dan nilai-nilai luhur di baliknya, perahu kunting menjadi bukti bahwa kearifan lokal masyarakat pesisir Trenggalek tetap hidup dan relevan di era modern.
Baca Juga: Upacara Labuh Laut Larung Sembonyo sebagai Syukuran Atas Hasil Tangkapan Ikan Nelayan di Watulimo
Perbedaan dengan Perahu Untul
Perahu untul sekilas mirip dengan perahu kunting jika melihat bentuk perahunya, namun perbedaan yang mendasar adalah penggunaan mesin diesel ringan.
Sehingga ada penggunaan teknologi pada perahu untul meskipun sederhana dibanding perahu kunting yang hanya mengandalkan tenaga manusia dengan mendayung ke tengah laut.
Penggunaan mesin diesel pun memungkinkan perahu untul melaju lebih cepat untuk membelah gelombang dibanding perahu kunting.
Hal ini tentunya menuntut pengemudi perahu untul untuk lihai memainkan gas dan kemudi saat melaju di atas air.
Kendati bentuknya sederhana, namun perahu untul tetap bisa mendukung aktivitas masyarakat di sekitar Teluk Prigi Trenggalek dalam mencari hasil laut. *****