Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Yuk Kenalkan 5 Perahu Tradisional dari Beberapa Daerah di Indonesia, Nomor 5 Konon untuk Mata-mata

Dharaka R. Perdana • Jumat, 30 Mei 2025 | 00:49 WIB

Perahu pinisi yang berlayar dengan gagah di lautan. (ETHAN DANIELS/SHUTTERSTOCK VIA KEMENPAREKRAF)
Perahu pinisi yang berlayar dengan gagah di lautan. (ETHAN DANIELS/SHUTTERSTOCK VIA KEMENPAREKRAF)

TRENGGALEK NJENGGELEK - Dikenal sebagai negara maritim, tak mengherankan jika perahu atau kapal menjadi salah satu transportasi andalan di Indonesia.

Bahkan perahu kunting, untul, dan slerek merupakan sebagian kecil dari keberagaman alat transportasi air di Indonesia. 

Ditambah lagi, menurut berbagai legenda yang ada, dan turut menginspirasi sebuah lagu anak-anak populer, dijelaskan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah seorang pelaut yang akrab dengan perahu atau kapal.

Baca Juga: Selain Kunting, Ada Ragam Perahu Tradisional di Pantai Prigi Sebagai Identitas Maritim Nelayan Trenggalek

Hal ini makin diperkuat dengan banyaknya perahu atau kapal-kapal tradisional Indonesia yang sudah ada sejak zaman dahulu kala.

Sebenarnya, nenek moyang bangsa Indonesia adalah seorang pelaut yang tak bisa dipisah dari wilayah perairan yang sangat luas, serta menjadi mata pencaharian yang sangat potensial bagi para nelayan dan pelaut.

Maka dari itu, dibutuhkan kapal-kapal tangguh untuk menunjang hal tersebut, dan dapat mengarungi lautan yang luas.

Baca Juga: Andalan Nelayan Prigi Trenggalek, Perahu Ini Lebih Besar Daripada Kunting dan Untul, Bisa Menebak?

Hebatnya, kapal tradisional Indonesia memiliki ciri khas yang menggambarkan fungsi dan dari mana kapal tradisional tersebut berasal.

Untuk mengenal lebih dalam tentang sejarah nenek moyang Indonesia, berikut beberapa kapal tradisional asli Indonesia yang tangguh:

1. Pinisi

Kalau mencari kapal tradisional Indonesia, pasti nama kapal pinisi akan muncul di urutan pertama. Kapal tradisional yang berasal dari Bulukumba, Sulawesi Selatan ini digunakan pelaut Suku Konjo, Suku Bugis, dan Suku Mandar.

Baca Juga: Balap Perahu Untul di Pelabuhan Niaga Prigi Trenggalek Seru, Ini Buktinya

Konon, kapal pinisi menjadi salah satu bukti bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah seorang pelaut. Sebab, kapal pinisi diperkirakan sudah berlayar mengarungi lautan sejak tahun 1500-an.

2. Sandeq

Merupakan perahu khas Suku Mandar dari Sulawesi Barat yang memiliki berbentuk langsing dan mungil, karena hanya memiliki lebar satu meter serta panjang sekitar 7 meter.

Uniknya, walau bentuknya kecil, sandeq punya tiang layar yang tinggi mencapai 20 meter, dengan bentangan layar hingga 5 meter.

Walau bentuknya mungil, sandeq tetap memiliki kemampuan mengarungi lautan dengan sangat tangguh.

Baca Juga: Kemeriahan Balap Perahu Kunting di Teluk Prigi Trenggalek, Ini Tantangan para Peserta

3. Jalur

Riau juga memiliki perahu tradisional lainnya yang cukup unik, yakni jalur. Perahu ini terbilang unik, karena menggunakan kayu gelondongan alias kayu utuh tanpa sambungan.

Konon, perahu jalur sudah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang masyarakat Kuansing sejak ratusan tahun silam, dan digunakan sebagai alat transportasi masyarakat yang tinggal sepanjang aliran Sungai Kuantan.

Baca Juga: Labuh Laut Sembonyo di Karanggongso Trenggalek Meriah, Dua Tumpeng Dilarung ke Tengah Laut

4. Bidar

Selanjutnya ada perahu tradisional khas Indonesia yang berasal dari Palembang, Sumatra Selatan. Perahu bidar memiliki panjang sekitar 24-30 meter, lebar 75-100 cm, dan tinggi 60-100 cm.

Dengan ukuran seperti itu, perahu bidar bisa menampung hingga 45-58 orang. Namun, menurut kepercayaan masyarakat Palembang, perahu bidar hanya bisa dinaiki pria saja. 

5. Pencalang

Kapal tradisional Indonesia yang kerap digunakan masyarakat Riau dan Semenanjung Melayu untuk berlayar dan mematai musuh.

Hal ini sesuai dengan arti dari kata pencalang atau pantchiallang dalam bahasa Melayu, yakni mengintai atau mengintip. ****

 

Editor : Dharaka R. Perdana
#bidar #sandeq #pencalang #kapal #Jalur #pinisi #perahu