Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Warga Trenggalek Merasakan Fenomena Bediding, Tanda Musim Kemarau Telah Tiba

Zaki Jazai • Kamis, 10 Juli 2025 | 03:52 WIB
Ilustrasi fenomena Bediding yang terjadi di Trenggalek
Ilustrasi fenomena Bediding yang terjadi di Trenggalek

Trenggaleknjenggelek – Suhu dingin yang menusuk tulang pada malam hingga pagi hari mulai dirasakan masyarakat Trenggalek dalam beberapa pekan terakhir. Fenomena ini dikenal dengan istilah lokal “bediding”, sebuah pertanda khas yang menandai awal musim kemarau di wilayah pegunungan selatan Jawa Timur.

Secara etimologis, bediding berasal dari bahasa Jawa "bedhidhing", yang berarti dingin atau menggigil. Di Trenggalek, istilah ini menjadi bagian dari pengetahuan lokal masyarakat yang digunakan untuk menggambarkan peralihan cuaca ekstrim antara siang dan malam. Saat siang hari matahari bersinar terik dan suhu bisa mencapai lebih dari 33 derajat Celcius, tetapi ketika malam datang, udara berubah drastis menjadi sangat dingin, bahkan bisa menyentuh 17 derajat Celcius di beberapa kecamatan pegunungan seperti Bendungan, Pule, dan Dongko.

Menurut pantauan sejumlah warga, kondisi bediding mulai terasa sejak akhir Juni 2025. “Kalau sudah mulai bediding begini, tandanya kemarau datang. Biasanya siang panas, malam dingin sekali. Tidur harus pakai selimut tebal,” kata, warga Kecamatan Karangan, Siti Nurhasanah.

Fenomena ini sejatinya bukan hal baru bagi masyarakat Trenggalek, terutama yang tinggal di dataran tinggi. Namun, perbedaan suhu yang mencolok ini tetap perlu diwaspadai, terutama terkait dampaknya pada kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkesdalduk KB) Kabupaten Trenggalek bahkan mengimbau masyarakat untuk mengenakan pakaian hangat saat malam hari dan menjaga asupan nutrisi agar daya tahan tubuh tetap kuat.

"Perubahan suhu ekstrim seperti bediding ini bisa memicu berbagai penyakit, terutama infeksi saluran pernapasan atas, flu, dan demam. Anak-anak dan lansia perlu mendapat perhatian khusus," ujar Kepala Dinkesdalduk KB Trenggalek, dr. Sunarto.

Selain dampak kesehatan, musim kemarau yang ditandai dengan bediding juga berpengaruh pada sektor pertanian. Petani di Trenggalek mulai bersiap menghadapi masa tanam kemarau, di mana ketersediaan air menjadi perhatian utama. Di beberapa wilayah yang mengandalkan tadah hujan, musim kemarau bisa menghambat siklus tanam padi dan palawija.

BPBD Kabupaten Trenggalek menyatakan bahwa awal musim kemarau juga meningkatkan potensi bencana kekeringan dan kebakaran hutan di sejumlah titik rawan. Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, St. Triadi Atmono, menyampaikan bahwa pihaknya telah mengaktifkan sistem pemantauan dini di beberapa kecamatan.

Dengan segala dampak yang ditimbulkan, bediding di Trenggalek tak hanya menjadi bagian dari khasanah budaya lisan, tetapi juga alarm alam yang mengingatkan akan datangnya musim kering. Masyarakat pun diajak untuk lebih tanggap terhadap perubahan cuaca dan menjaga kesehatan serta lingkungan di tengah kondisi yang semakin ekstrim.

"Kami menghimbau masyarakat untuk mulai hemat air dan tidak melakukan pembakaran sampah atau lahan sembarangan. Fenomena bediding adalah sinyal awal bahwa musim kemarau telah berlangsung. Antisipasi lebih dini jauh lebih baik," jelasnya.(jaz) 

 

 

 

 

Editor : Zaki Jazai
#bediding #Suhu Dingin AS #trenggalek #musim kemarau