Trenggaleknjenggelek - Saat penggemar animasi Upin & Ipin mendengar kabar bahwa akan hadir game baru berjudul Upin Ipin Universe, banyak yang antusias.
Tapi begitu dirilis, yang muncul justru gelombang hujatan. Pasalnya, alih-alih menyenangkan, game ini menyajikan parade bug yang memalukan.
Dari tayangan live streamer seperti Windah Basudara, terlihat sejumlah glitch konyol seperti Tok Dalang cosplay jadi Naruto dan berdiri di atas air.
Kamera yang tiba-tiba mengarah ke bawah saat main layangan, hingga dialog nyeleneh saat karakter tidur siang tapi mengucapkan “Selamat malam.” Tak pelak, gamer pun geleng-geleng kepala: ini game atau eksperimen AI gagal?
Baca Juga: 7 Game Multiplayer yang Punya Campaign Solo dengan Cerita Kuat
Yang paling bikin panas kuping gamer adalah harganya. Upin Ipin Universe dijual di Steam seharga Rp650.000 lebih mahal dari game AAA seperti Elden Ring, Mafia: Definitive Edition, atau bahkan Wucheng: Fallen Feathers.
Perbandingan ini langsung viral di media sosial. Bukan hanya soal harga, tapi kualitasnya yang jauh dari layak.
Dengan banderol setinggi itu, publik berharap kualitas grafis dan gameplay yang solid. Namun yang terjadi malah sebaliknya: bug, desain seadanya, dan pengalaman bermain yang disebut-sebut “belum matang untuk dirilis.”
Kritik tidak berhenti di teknis. Komunitas gamer mulai mengangkat isu lebih serius: dugaan eksploitasi pekerja.
Seorang jurnalis game mengungkap di media sosial bahwa beberapa karyawan pengembang tidak dibayar berbulan-bulan.
Bahkan, laporan ini justru dibalas dengan pemblokiran akun di forum resmi Steam oleh moderator game tersebut.
Ajakan untuk memboykot Upin Ipin Universe pun bermunculan, tak hanya karena bug dan harga, tetapi juga solidaritas terhadap para pekerja yang kabarnya mengalami ketidakadilan.
Ironis, sebuah game yang ditujukan sebagai media hiburan keluarga justru berubah menjadi sorotan negatif karena kelalaian teknis dan isu moral yang menyertainya.
Padahal dengan IP sekuat Upin & Ipin, potensi game ini sangat besar bila dikelola dengan baik dan transparan.
Namun kenyataannya, Upin Ipin Universe justru mencatatkan diri sebagai salah satu contoh terburuk dalam perilisan game Asia Tenggara tahun ini.
Komentar netizen pun jadi sarkas: "Game anak-anak, tapi manajemen kayak sinetron malam hari." (sun)