TRENGGALEKJENGGELEK - Penemuan batuan lava pijar beku sisa letusan Gunung Wilis Purba di Trenggalek sebenarnya tidak terlalu mengejutkan.
Apalagi bagian utara Trenggalek merupakan kaki Gunung Wilis sisi selatan yang masuk Kecamatan Bendungan.
Baca Juga: Dugaan Lava Purba Ditemukan di Lokasi Proyek Bendungan Bagong Trenggalek
Gunung Wilis terletak di enam kabupaten, yakni Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Madiun, Nganjuk, dan Kediri atau Tunggal Rogo Mandiri.
Gunung Wilis termasuk gunung api tipe B yang telah lama tidak meletus pada zaman modern.
Berdasarkan catatan PVMBG, sebelum abad ke-17 setidaknya ada empat titik letusan di kompleks Wilis (Wilis Tua, Ngargakalangan, Wilis Muda, Watubangil).
Artinya aktivitas vulkanik terakhir terjadi sebelum tahun 1600 M, sehingga kini Wilis termasuk “gunung tidur” yang didominasi hutan lebat.
Baca Juga: Jalur Pendakian Gunung Wilis Via Botoputih Resmi Dibuka, Ini Peta dan Aturannya
Lereng Gunung Wilis sejak zaman kuno menjadi tempat sakral dan pusat peradaban. Ahli sejarah Kediri mengungkap bahwa pada masa Kerajaan Kediri lereng timur Wilis digunakan untuk upacara pemujaan dan pertapaan.
Dalam karya klasik Majapahit Tantu Panggelaran, Gunung Wilis disebut sebagai salah satu gunung suci hasil tusukan Gunung Mahameru guna menancapkan Pulau Jawa.
Baca Juga: Peta Pendakian Gunung Wilis Via Botoputih, Trenggalek: Jalur Menuju Puncak Kayangan 1.520 MDPL
Di sekitar kaki Gunung Wilis juga pernah berdiri kerajaan-kerajaan kecil sebelum era Majapahit, misalnya Kerajaan Gegelang di barat Wilis (sekitar Madiun) dan Kerajaan Wengker di selatan (Ponorogo).
Pada masa perjuangan kemerdekaan, menjadi lokasi gerilya Tentara Nasional Indonesia (Jenderal Sudirman) bahkan melewati lereng Gunung Wilis menjelang Serangan Umum 1 Maret 1949 ke Yogyakarta.
Dengan demikian, Wilis menjadi saksi berbagai era sejarah lokal – dari kerajaan-kerajaan Hindu-Jawa hingga era kolonial dan kemerdekaan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana