Trenggaleknjenggelek - Generasi 90-an mengenal kartun sebagai hiburan yang tulus. Ceritanya sederhana, konfliknya relevan untuk anak-anak, dan pesan moralnya mudah dicerna. Tidak ada kejar-kejaran efek CGI berlebihan atau desain karakter yang terlalu “ramai” demi viral.
Kartun seperti Doraemon, Dragon Ball, atau Tom and Jerry bertahan di ingatan bukan karena teknologinya, tapi karena ceritanya jujur dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Animasi abad 21 jelas punya keunggulan teknologi: warna lebih tajam, gerakan lebih halus, bahkan 3D penuh efek visual. Tapi, di balik kemewahan itu, ada kritik yang sering muncul:
- Cerita Cenderung Cepat dan Padat
Banyak animasi modern terasa terburu-buru, seolah dikejar target durasi dan tren pasar. - Fokus pada Gimmick Visual
Efek grafis memang memukau, tapi sering mengorbankan kedalaman cerita. - Karakter Terlalu “Bersih”
Banyak tokoh dibuat terlalu sempurna atau template “pahlawan generik”, sehingga kehilangan kekhasan yang bikin penonton jatuh cinta.
Kartun 90-an punya “nafas panjang” untuk membangun cerita. Dialognya tidak takut berlama-lama, adegannya tidak selalu heboh, tapi justru itu yang membuat penonton terikat.
Ada ruang untuk humor ringan, drama sederhana, dan pesan moral yang tersampaikan tanpa terasa menggurui.
Sebaliknya, animasi abad 21 cenderung menyesuaikan diri dengan algoritma dan tren singkat, sehingga cepat naik daun, tapi juga cepat dilupakan.
Bukan berarti animasi modern buruk. Justru, jika teknologi mutakhir digabung dengan kedalaman narasi ala 90-an, hasilnya bisa luar biasa.
Tantangannya adalah berani melawan arus “konten instan” dan kembali ke inti: cerita yang membekas di hati penonton. (sun)
Editor : Mahsun Nidhom