Trenggaleknjenggelek - Di rumah sakit, oksigen murni digunakan dalam beberapa situasi darurat dan terapi khusus.
Misalnya terapi hiperbarik, pasien dimasukkan ke ruang bertekanan tinggi untuk membantu penyembuhan luka, keracunan karbon monoksida, atau infeksi tertentu.
Anestesi dan pernapasan, sebelum dan sesudah operasi, pasien kerap diberi oksigen murni untuk memastikan suplai oksigen stabil.
Perawatan ICU, pasien dengan gangguan pernapasan berat, seperti pneumonia atau ARDS, sering mendapat oksigen murni untuk mempertahankan kadar oksigen darah.
Namun, ada batasnya paparan terlalu lama bisa merusak paru-paru dan memicu oksidasi berlebih pada jaringan tubuh.
Oksigen Murni di Luar Angkasa
Astronot hidup dalam lingkungan yang jauh dari atmosfer Bumi, sehingga oksigen harus dipasok secara artifisial.
NASA, misalnya, menggunakan campuran udara dengan kadar oksigen tinggi, bahkan mendekati murni, di beberapa kondisi:
- Pre-breathe protocol: Sebelum keluar dari ISS untuk spacewalk, astronot menghirup oksigen murni untuk mengeluarkan nitrogen dari tubuh dan mencegah decompression sickness.
- Life support system: Modul luar angkasa punya sistem daur ulang udara, yang memisahkan CO₂ dan mengisi ulang oksigen.
- Roket dan kapsul: Dalam beberapa misi, lingkungan oksigen murni digunakan karena lebih ringan dan teknisnya lebih sederhana dibanding campuran udara.
Bedanya dengan di Bumi? Di luar angkasa, oksigen murni bukan pilihan tambahan—tapi syarat mutlak agar manusia bisa bertahan hidup.
Baik di Bumi maupun di orbit, oksigen murni punya risiko serupa:
- Memicu kebakaran cepat (seperti kasus tragis Apollo 1 pada 1967).
- Potensi kerusakan paru jika digunakan tanpa kontrol tekanan dan durasi.
Jadi meski terdengar “lebih sehat,” oksigen murni sebenarnya adalah obat sekaligus tantangan teknologi. (sun)
Editor : Mahsun Nidhom