Trenggaleknjenggelek - Di jalanan, mungkin kamu pernah melihat atau mendengar kasus orang yang kecanduan menghirup lem.
Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan aneh, ada alasan ilmiah di baliknya. Perekat mengandung toluena, zat kimia yang membuatnya mudah menguap dan memberikan sensasi “menyenangkan” bagi yang menghirupnya.
Toluena bukan cuma ada di lem, tapi juga di spidol, cat kuku, dan bahan rumah tangga lainnya. Saat dihirup, uapnya masuk lewat paru-paru, menyebar ke darah, lalu menuju otak.
Di sana, toluena memicu pelepasan hormon bahagia secara berlebihan. Efeknya mirip pesta di otak: euforia, tertawa tanpa sebab, hingga halusinasi.
Sensasi inilah yang membuat pecandunya ingin mengulanginya terus, sampai terjebak dalam lingkaran kecanduan.
Meski terasa “menyenangkan”, toluena sebenarnya merusak sistem saraf. Pecandu lama akan kesulitan berbicara, berjalan tidak seimbang.
Bahkan kehilangan kesadaran mendadak. Ciri fisiknya juga khas: ruam di sekitar mulut akibat kontak dengan bahan kimia.
Yang lebih berbahaya, toluena mengurangi oksigen dalam darah. Tubuh merespons dengan memaksa jantung bekerja lebih keras, menyebabkan detak tak beraturan, hingga kematian—bahkan pada penggunaan pertama yang berlebihan.
Banyak pecandu lem adalah anak-anak atau remaja jalanan. Bagi mereka, ini “kebahagiaan murah” di tengah kerasnya hidup.
Padahal, semakin sering digunakan, otak jadi kebal dan butuh dosis lebih tinggi untuk merasakan efek yang sama.
Fenomena ini bukan hanya di Indonesia. Di Australia, misalnya, kecanduan inhalan juga marak akibat depresi dan diskriminasi sosial.
Menghentikan kecanduan toluena bukan sekadar kemauan pribadi, dibutuhkan bantuan profesional, dukungan keluarga, dan komunitas yang peduli.
Pecandu perlu tahu bahaya sebenarnya, bukan hanya merasakan “bahagia sesaat” yang mengorbankan nyawa.
Kita semua punya peran. Edukasi, kepedulian, dan tindakan nyata adalah senjata paling ampuh melawan kecanduan yang mematikan ini. (sun)
Editor : Mahsun Nidhom