Trenggaleknjenggelek - Karier data analyst kini makin populer, tapi masih banyak mitos yang bikin orang minder duluan sebelum mencoba.
Banyak yang percaya bahwa untuk menjadi data analyst harus jago matematika dan ahli coding layaknya programmer. Padahal, kenyataannya tidak seseram itu.
Keyword "data analyst" sering dikaitkan dengan kalkulator, rumus ribet, dan layar coding hitam penuh angka.
Mitos ini membuat profesi data analyst seolah hanya untuk “anak jenius” yang sejak lahir sudah bersahabat dengan rumus integral.
Apakah Data Analyst Harus Jago Matematika?
Salah satu mitos terbesar adalah: “Kalau mau jadi data analyst, matematikamu harus dewa.”
Faktanya, tidak semua data analyst menghabiskan hari-harinya dengan aljabar linear atau persamaan diferensial.
Matematika yang dibutuhkan biasanya level statistik dasar: rata-rata, median, korelasi, sampai visualisasi tren.
Tools modern seperti Excel, Tableau, atau Power BI sudah membantu mempermudah perhitungan rumit.
Artinya, kemampuan logika lebih penting dibanding hafalan rumus.
Coding: Wajib atau Opsional?
Mitos lain: data analyst = coder sejati. Padahal, tidak semua data analyst harus jadi master Python atau SQL.
SQL memang penting untuk mengakses database, tapi levelnya tidak sampai bikin software.
Python atau R memang populer, tapi bisa dipelajari step by step. Bahkan banyak analyst sukses yang awalnya cuma pakai Excel.
Skill utama tetap: memahami masalah bisnis dan menerjemahkannya lewat data. Coding hanya alat, bukan inti profesi.
Jadi, Siapa pun Bisa Jadi Data Analyst?
Jawabannya iya. Profesi ini justru semakin terbuka untuk berbagai latar belakang. Banyak data analyst yang dulunya berasal dari ekonomi, psikologi, komunikasi, bahkan sastra.
Selama punya rasa ingin tahu, kemampuan analisis, dan mau belajar tools digital, peluang terbuka lebar.
Mitos seputar data analyst sering membuat banyak orang mundur sebelum mulai. Padahal, karier ini tidak menuntut otak Einstein. Yang dibutuhkan hanyalah:
- Kemampuan analisis dasar,
- Rasa ingin tahu,
- Keterampilan komunikasi untuk menyampaikan insight.
Jadi kalau kamu tertarik, berhenti takut dengan kata “matematika” dan “coding”. Dunia data analyst lebih ramah dari yang kamu kira—siapa pun bisa belajar dan sukses di dalamnya. (sun)
Editor : Mahsun Nidhom