Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

7 Pantangan Saat Rebo Wekasan, Masyarakat Percaya Bisa Datangkan Musibah

Betty Khasandra Pujayanti • Rabu, 20 Agustus 2025 | 21:30 WIB
Rebo Wekasan diyakini sebagian masyarakat sebagai hari musibah dengan sejumlah larangan berlaku sepanjang siang hingga malam.
Rebo Wekasan diyakini sebagian masyarakat sebagai hari musibah dengan sejumlah larangan berlaku sepanjang siang hingga malam.

TRENGGALEKNJENGGELEK - Rebo Wekasan atau Rabu Wekasan diyakini sebagian umat Islam, terutama masyarakat Jawa, sebagai hari yang penuh musibah.

Tradisi ini selalu jatuh pada Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriah, yang pada tahun 2025 bertepatan dengan tanggal 20 Agustus.

Bagi masyarakat yang masih memegang teguh tradisi, Rebo Wekasan menjadi momentum menjauhi pantangan tertentu demi keselamatan diri.

Selain melaksanakan amalan seperti membaca doa tolak bala, selamatan, dan membaca ayat suci Al-Quran, masyarakat juga memegang teguh sejumlah pantangan.

Berikut ini tujuh pantangan yang menurut keyakinan masyarakat sebaiknya dihindari saat berlangsungnya Rebo Wekasan.

1. Keluar Rumah Tanpa Keperluan Mendesak

Banyak orang percaya bahwa keluar rumah pada Rebo Wekasan bisa meningkatkan risiko tertimpa musibah.

Oleh karena itu, sebagian masyarakat memilih tetap di rumah kecuali ada kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda.

2. Bepergian Jauh

Perjalanan jarak jauh, baik darat maupun laut, dianggap berbahaya saat Rebo Wekasan.

Tradisi ini membuat banyak orang menunda bepergian hingga hari lain yang dinilai lebih aman dan penuh keberkahan.

3. Melakukan Pekerjaan Berat yang Berisiko

Aktivitas fisik yang berisiko, seperti memanjat pohon, menggunakan alat tajam, atau pekerjaan berat lainnya, sebaiknya dihindari.

Tujuannya untuk meminimalkan potensi kecelakaan yang bisa saja dianggap sebagai bala.

Dengan menundanya, masyarakat merasa lebih aman sekaligus terhindar dari kemungkinan musibah yang tidak diinginkan.

4. Menggelar Pesta atau Acara Besar

Masyarakat tidak disarankan mengadakan pesta pernikahan, khitanan, atau acara besar lainnya saat Rebo Wekasan.

Hal tersebut dipercaya kurang membawa berkah jika tetap dilaksanakan pada hari yang dianggap penuh bala.

Oleh karena itu, sebagian masyarakat memilih menjadwalkan acara penting di hari lain yang diyakini lebih baik.

5. Memulai Usaha Baru

Sebagian masyarakat Jawa percaya bahwa memulai usaha baru atau mengambil keputusan besar saat Rebo Wekasan bisa membawa kesialan.

Oleh karenanya, banyak orang lebih memilih menunggu hari berikutnya yang dianggap lebih baik.

6. Mengadakan Perjalanan Laut

Nelayan atau masyarakat pesisir biasanya menghindari berlayar di laut saat hari Rebo Wekasan.

Hal ini karena diyakini lautan sedang tidak bersahabat sehingga risiko bencana dianggap lebih tinggi dari hari-hari biasanya.

7. Mengabaikan Doa dan Ibadah

Pantangan lain yang diyakini adalah melalaikan doa dan ibadah. Justru pada hari ini, umat dianjurkan memperbanyak doa, membaca Alquran, dan memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Bagi sebagian orang, menjauhi pantangan menjadi simbol kehati-hatian sekaligus sarana memperbanyak amal ibadah di tengah aktivitas sehari-hari.

Selain menjauhi larangan, amalan yang biasa dilakukan antara lain membaca doa tolak bala, melaksanakan salat sunnah, hingga bersedekah kepada sesama yang membutuhkan.

Dengan begitu, Rebo Wekasan tidak hanya dimaknai sebagai hari penuh musibah, tetapi juga kesempatan untuk mempertebal iman dan meningkatkan kepedulian sosial.

Editor : Akhmad Nur Khoiri
#rebo wekasan #Tradisi Jawa #bulan Safar