Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Game Point Blank: Dari Raja Warnet Hingga Bertahan di Era FPS Modern

Mahsun Nidhom • Selasa, 26 Agustus 2025 | 05:10 WIB
Game Point Blank masih bertahan hingga 2025 meski dikepung Valorant dan CS2.
Game Point Blank masih bertahan hingga 2025 meski dikepung Valorant dan CS2.

Trenggaleknjenggelek - “Fire in the hole! Double kill! Triple kill! Chain killer!” teriakan khas ini pasti langsung bikin flashback ke masa di mana Point Blank jadi primadona di setiap warnet Indonesia.

Rilis di Tanah Air pada 25 Juni 2009, game FPS online ini langsung meledak, dengan hampir 2 juta pemain hanya dalam setahun.

Di era internet mahal dan terbatas, warnet jadi rumah kedua anak-anak sekolah. Point Blank pun jadi “menu wajib” di setiap PC warnet, menggantikan kejayaan Ragnarok Online dan bersaing ketat dengan Counter Strike.

Rahasia sukses Point Blank bukan cuma di gameplay FPS yang seru dan mudah dipelajari. Yang bikin beda adalah budaya mabar (main bareng).

Anak-anak sekolah rela antri, begadang, bahkan patungan buat billing demi bisa main satu tim bareng teman-teman.

Dari sini lahirlah komunitas besar: clan, war antar-warnet, sampai turnamen lokal. Publisher GameSchool pun cerdas memanfaatkan tren ini lewat program G-Warnet Gold, yang bikin PB makin mengakar di kalangan gamer warnet.

Siapa yang masih ingat Chris SV Dual? Senjata legendaris ini jadi simbol status di Point Blank.

Fire rate tinggi bikin musuh langsung tumbang, apalagi kalau dipadukan dengan title yang memberi buff kecepatan tembak.

Sistem title sendiri jadi ciri khas PB. Pemain bisa membuka jalur spesialisasi Assault, Sniper, atau SMG yang menambah akurasi, damage, hingga gameplay unik.

Sayangnya, di balik kejayaannya, cheat jadi momok utama. Aimbot, wallhack, sampai program curang lainnya merusak pengalaman main.

Meskipun sudah ada ban massal dan update anti-cheat, cheat terus berevolusi. Fenomena ini bikin banyak pemain frustrasi dan meninggalkan game.

Tahun 2015, Garena mengambil alih lisensi PB dari GameSchool. Di tangan mereka, PB coba dihidupkan lagi lewat:

Kompetisi e-sport pun berkembang pesat, dengan ribuan tim ikut kualifikasi. Namun, masalah cheat tetap jadi duri dalam daging, bahkan semakin masif di era Garena.

Akhir 2018, Garena menyerahkan kembali PB ke developer aslinya, Zepeto. Mereka mencoba mendekat ke komunitas lewat event seperti Gerbek Warnet dan turnamen rutin.

Update map ikonik seperti Luxville juga dilakukan untuk memberi sentuhan segar.

Tapi tantangan makin berat. Dunia FPS sudah dipenuhi Valorant, CS2, PUBG, Overwatch, dan lain-lain.

Dengan engine lawas, PB harus berjuang keras biar nggak ditinggal. Walau speknya ringan, gameplay mulai terasa ketinggalan zaman jika dibandingkan pesaing modern.

Hari ini, Point Blank masih hidup, meski tidak sepopuler masa kejayaannya. Cheat masih menghantui, engine lawas jadi kendala, dan persaingan makin ketat.

Namun, PB tetap punya nilai sentimental. Bagi banyak gamer Indonesia, game ini bukan sekadar FPS, tapi sebuah kenangan kolektif di warnet, tempat pertemanan, mabar, dan nostalgia terbentuk.

Apakah PB bisa kembali berjaya? Mungkin tidak. Tapi, bertahan lebih dari 15 tahun di tengah perubahan industri game saja sudah prestasi luar biasa. (sun)

KH Muhammad Idror Maimoen, salah satu putra almarhum KH Maimoen Zubair, hadir mewakili ahli waris saat penyerahan tanda jasa dan kehormatan Bintang Mahaputera Utama di Istana Negara, Senin (25/8).
KH Muhammad Idror Maimoen, salah satu putra almarhum KH Maimoen Zubair, hadir mewakili ahli waris saat penyerahan tanda jasa dan kehormatan Bintang Mahaputera Utama di Istana Negara, Senin (25/8).
Editor : Mahsun Nidhom
#Point Blank #game jaman dulu #game fps