TRENGGALEK - Patriarki merupakan sistem yang menempatkan laki-laki sebagai pihak dominan dalam keluarga maupun masyarakat, sementara perempuan sering kali dianggap lebih rendah kedudukannya.
Pola ini tidak hanya membatasi peran perempuan, tetapi juga menimbulkan ketidakadilan yang dapat menghambat keharmonisan keluarga.
Untuk itu, penting bagi setiap keluarga berupaya membangun lingkungan yang setara agar patriarki tidak berkembang.
1. Menanamkan Nilai Kesetaraan Sejak Kecil
Anak-anak belajar dari contoh yang diberikan orang tua.
Oleh karena itu, sejak dini orang tua perlu menanamkan bahwa baik anak laki-laki maupun perempuan memiliki hak dan kesempatan yang sama.
Misalnya, tidak membedakan jenis permainan, tanggung jawab rumah tangga, atau cita-cita berdasarkan gender.
2. Membagi Peran Rumah Tangga Secara Adil
Salah satu akar patriarki dalam keluarga adalah pembagian tugas rumah yang hanya dibebankan pada perempuan.
Agar tidak terjadi ketimpangan, pasangan perlu saling berbagi peran sesuai kemampuan dan kesepakatan.
Laki-laki dapat turut mengurus anak, memasak, atau membersihkan rumah, sementara perempuan juga bisa terlibat dalam pengambilan keputusan finansial.
3. Menghargai Pendapat Seluruh Anggota Keluarga
Dalam keluarga yang setara, setiap anggota baik ayah, ibu, maupun anak berhak menyampaikan pendapatnya.
Dengan membiasakan musyawarah, anak-anak akan belajar bahwa suara mereka penting, tanpa memandang jenis kelamin.
4. Memberikan Pendidikan yang Sama
Kesempatan pendidikan tidak boleh dibatasi oleh gender. Setiap anak perlu didukung untuk mengembangkan potensinya, baik dalam bidang akademik, seni, maupun keterampilan hidup.
Dengan pendidikan yang setara, pola pikir patriarki dapat dicegah sejak dini.
5. Menumbuhkan Rasa Saling Menghormati
Kesetaraan tidak berarti menghapus perbedaan, melainkan menghargai peran masing-masing.
Rasa hormat perlu dipupuk, baik dari anak kepada orang tua, maupun antar pasangan.
Sikap saling menghormati akan menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dan jauh dari dominasi sepihak.
6. Membuka Ruang Diskusi Tentang Gender
Keluarga juga perlu membicarakan isu-isu kesetaraan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Dengan begitu, anak-anak dapat mengenali adanya stereotip gender dan belajar untuk menolaknya. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah