Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Mitos atau Fakta: Benarkah Menonton Mukbang Bisa Bikin Lapar?

Auliya Nur'Aini Khafadzoh • Kamis, 2 Oktober 2025 | 01:09 WIB
Baru nonton mukbang, eh tiba-tiba pengen mie instan tengah malam.
Baru nonton mukbang, eh tiba-tiba pengen mie instan tengah malam.

 

TRENGGALEK - Di era media sosial, mukbang bukan lagi sekadar tren, melainkan sudah menjadi hiburan global.

Banyak orang betah berjam-jam menonton orang lain melahap ayam goreng renyah, mie pedas berkuah panas, hingga seafood berlimpah dengan saus yang menggoda.

Namun, muncul pertanyaan yang sering jadi bahan obrolan: “Apakah menonton mukbang benar-benar bikin lapar, atau cuma sugesti saja?”

1. Mukbang dan Daya Tarik Visual

Tubuh manusia sangat peka terhadap visual, terutama makanan. Saat mata kita menangkap sajian yang menggugah selera, otak otomatis memprosesnya sebagai “sinyal lapar”.

Menurut penelitian, hanya dengan melihat makanan, otak bisa merangsang pelepasan hormon ghrelin, hormon yang memberi sinyal ke perut untuk merasa lapar.

Jadi, tidak mengherankan kalau banyak orang yang awalnya tidak lapar, tiba-tiba ingin ngemil setelah menonton mukbang.

2. Efek Psikologis: Rasa “Ikut Makan”

Selain faktor biologis, psikologi juga berperan besar. Saat melihat seseorang makan dengan lahap suara kriuk, ekspresi puas, dan cara mereka menikmati setiap suapan kita seolah-olah ikut duduk di meja yang sama.

Fenomena ini dikenal dengan istilah “social eating”.

Otak kita mudah tertular oleh kebiasaan makan orang lain, bahkan hanya lewat layar ponsel.

Ini pula yang membuat banyak penonton merasa “kangen” pada makanan tertentu setelah menonton mukbang.

3. Fakta dari Riset: Visual Hunger

Ilmu pengetahuan punya istilah khusus untuk fenomena ini, yaitu visual hunger (lapar karena pengaruh visual).

Beberapa studi menunjukkan bahwa sering terpapar gambar atau video makanan bisa meningkatkan nafsu makan dan mendorong orang makan lebih banyak dari biasanya.

Sederhananya, menonton mukbang sama halnya seperti “menggoda” otak kita dengan simulasi makanan.

4. Tidak Sama untuk Semua Orang

Menariknya, tidak semua orang langsung lapar saat menonton mukbang.

Ada yang justru merasa puas hanya dengan melihat orang lain makan, seolah-olah ikut “menikmati” makanan tanpa perlu mengonsumsinya.

Misalnya, orang yang sedang diet kadang menggunakan mukbang sebagai “pelarian”.

Dengan menonton, mereka bisa merasa sudah cukup terhibur sehingga tidak perlu benar-benar makan. Tapi tentu efek ini tidak berlaku bagi semua orang.

5. Dampak Positif dan Negatif

Menonton mukbang punya sisi ganda.

Dampak positif:

Dampak negatif:

6. Jadi, Mitos atau Fakta?

Jawabannya adalah fakta. Menonton mukbang memang bisa bikin lapar, karena visual dan psikologis kita sangat mudah dipengaruhi.

Namun, efeknya berbeda-beda. Ada yang langsung mencari makanan setelah nonton, ada juga yang cukup puas hanya dengan melihat.

Yang paling penting adalah mengendalikan respon diri kita. Sesekali menonton mukbang tidak masalah, tapi jangan sampai membuat pola makan berantakan.

Tips Agar Tidak Mudah Lapar Saat Menonton Mukbang

1. Tonton setelah makan kenyang. Perut yang penuh membuat godaan lebih kecil.

2. Siapkan camilan sehat. Jika ingin ngemil, pilih buah atau kacang, bukan junk food.

3. Atur waktu menonton. Jangan nonton mukbang saat malam menjelang tidur, karena biasanya malah bikin ingin makan tengah malam.

4. Ingat tujuanmu. Kalau sedang diet, jadikan mukbang sekadar hiburan, bukan pemicu untuk melanggar aturan makanmu.

Pura Sweta Maha Suci
Pura Sweta Maha Suci
Suasana jelang Maghrib di Masjid Miftahul Huda Desa Balun.
Suasana jelang Maghrib di Masjid Miftahul Huda Desa Balun.
Makam Mbah Alun yang ramai dikunjungi setiap Jumat Kliwon.
Makam Mbah Alun yang ramai dikunjungi setiap Jumat Kliwon.
Editor : Didin Cahya Firmansyah
#Mukbang #Healthy Eating #trenggalek #Fakta atau Mitos