Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Toxic Positivity: Ketika ‘Selalu Bahagia’ Jadi Racun

Auliya Nur'Aini Khafadzoh • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 02:31 WIB
Tidak apa-apa merasa sedih, kecewa, atau marah. Bahagia bukan kewajiban setiap saat, tapi keseimbangan emosi adalah kunci hidup yang sehat.
Tidak apa-apa merasa sedih, kecewa, atau marah. Bahagia bukan kewajiban setiap saat, tapi keseimbangan emosi adalah kunci hidup yang sehat.

TRENGGALEK - Di era media sosial, kebahagiaan sering ditampilkan seolah menjadi standar utama hidup.

Kita terbiasa melihat unggahan tentang pencapaian, senyum cerah, dan kata-kata motivasi seperti “Think positive!” atau “Jangan biarkan hal buruk merusak harimu.”

Sekilas terdengar baik, tapi fenomena ini melahirkan sesuatu yang disebut toxic positivity: sikap memaksakan diri (atau orang lain) untuk selalu bahagia, meskipun sedang menghadapi perasaan yang tidak menyenangkan.

Padahal, manusia adalah makhluk dengan spektrum emosi yang luas. Bahagia, sedih, marah, kecewa, bahkan frustrasi semua punya tempatnya.

Ketika kita menolak emosi negatif demi tampil “kuat” dan “positif,” justru kita sedang menutup ruang untuk penyembuhan diri.

Apa Itu Toxic Positivity?

Toxic positivity bukan sekadar berpikir positif, melainkan kecenderungan menolak atau menekan emosi negatif dengan dalih kebahagiaan wajib dirasakan setiap waktu.

Beberapa contoh nyata yang sering kita temui:

Mengapa Toxic Positivity Berbahaya?

1. Menumpuk Emosi Negatif

Menolak emosi tidak membuatnya hilang, justru menumpuk dalam diri. Seperti balon yang terus ditiup, pada akhirnya bisa pecah dalam bentuk stres, kecemasan, atau ledakan emosi.

2. Menghambat Proses Penyembuhan

Kesedihan, rasa sakit, dan kehilangan adalah proses alami yang perlu dilewati. Memaksa bahagia hanya membuat seseorang menunda pemulihannya.

3. Membuat Orang Merasa Sendiri

Alih-alih merasa didukung, orang yang dicurhati malah merasa tidak dipahami karena emosinya tidak divalidasi.

4. Menciptakan Tekanan Sosial Baru

Ketika media sosial dipenuhi pesan “kamu harus bahagia,” banyak orang merasa gagal jika tidak bisa tersenyum setiap waktu. Padahal hidup tidak selalu indah.

5. Meningkatkan Rasa Bersalah

Seseorang yang merasa sedih bisa berpikir dirinya “tidak cukup kuat” karena tidak bisa selalu berpikir positif. Ini memperparah kondisi mentalnya.

Positivitas Sehat vs Toxic Positivity

Contoh perbedaan:

Cara Menghindari Toxic Positivity

1. Belajar Menerima Emosi

Sadari bahwa merasa sedih atau marah bukan kelemahan. Itu bagian dari keseimbangan emosional manusia.

2. Berhenti Memberi Nasihat Instan

Saat orang lain curhat, lebih baik mendengarkan dengan empati ketimbang memaksakan kalimat motivasi kosong.

3. Gunakan Bahasa yang Menenangkan

Alih-alih bilang “Jangan sedih,” coba katakan, “Aku paham kamu lagi susah. Apa yang bisa kulakukan untuk bantu?”

4. Kelola Media Sosial dengan Bijak

Kurangi konsumsi konten yang hanya menampilkan kebahagiaan palsu. Ikuti akun yang jujur membagikan sisi kehidupan yang beragam.

5. Latih Diri untuk Jujur pada Perasaan

Jika sedang tidak baik-baik saja, akui. Tidak semua orang harus tahu, tapi diri sendiri perlu jujur agar bisa memulihkan luka.

 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#SelfAwareness #ToxicPositivity #Mental health #trenggalek