TRENGGALEK – Belakangan ini, junk journal menjadi tren baru di kalangan anak muda dan pecinta seni.
Tak hanya sekadar buku catatan, junk journal adalah jurnal yang dibuat dari bahan bekas seperti potongan kertas, majalah lama, tiket, bungkus cokelat, atau kain perca, lalu disusun menjadi karya kreatif penuh makna.
Tren ini memadukan kreativitas, estetika, dan semangat ramah lingkungan yang semakin diminati di era modern.
Bagi sebagian orang, membuat junk journal menjadi cara mengekspresikan diri sekaligus bentuk terapi emosional.
Setiap potongan kertas atau foto yang ditempel punya cerita tersendiri, menjadikan jurnal ini lebih personal dibandingkan buku catatan biasa.
Aktivitas ini juga dapat membantu mengurangi stres karena proses menyusun dan menghiasnya memberikan rasa tenang, fokus, serta kepuasan tersendiri setelah melihat hasil akhirnya.
Selain sebagai media ekspresi, junk journal kini juga menjadi bagian dari gaya hidup kreatif yang diminati generasi muda, terutama di kalangan Gen Z.
Banyak yang menjadikannya scrapbook aesthetic untuk mendokumentasikan momen, menulis refleksi diri, hingga menempelkan kenangan kecil seperti surat, foto polaroid, dan tiket perjalanan.
Kegiatan ini juga sering dibagikan di media sosial, menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk mulai menciptakan jurnal mereka sendiri.
Dari sisi lingkungan, tren ini turut mendorong gerakan upcycle atau mendaur ulang barang bekas agar lebih bermanfaat.
Menariknya, junk journal tidak memiliki aturan baku. Siapa pun bebas berkreasi sesuai gaya dan kepribadian masing-masing.
Ada yang memilih gaya vintage dengan warna lembut dan kertas cokelat tua, ada pula yang menonjolkan warna cerah dengan elemen modern dan eksperimental.
Hal ini membuat setiap jurnal memiliki karakter unik yang tak tergantikan, layaknya potret pribadi sang pembuatnya.
Jika mencari kegiatan yang bisa menenangkan pikiran sekaligus menumbuhkan kreativitas, membuat junk journal bisa jadi pilihan tepat.
Selain seru dan murah, kegiatan ini juga mengajarkan arti mendalam dari setiap potongan kenangan yang kita simpan, bahwa keindahan tidak selalu datang dari hal baru, tapi bisa tercipta dari sesuatu yang sederhana dan pernah dianggap tak berguna.
Editor : Didin Cahya Firmansyah