TRENGGALEK - kalangan remaja, flexing atau kebiasaan memamerkan sesuatu yang dimiliki mulai menjadi fenomena yang sering dijumpai.
Gaya hidup ini muncul karena keinginan untuk terlihat lebih unggul, mendapat pengakuan, atau ingin dianggap keren oleh orang lain.
Namun, tanpa disadari, kebiasaan tersebut justru dapat menimbulkan kesan buruk dan membuat teman merasa tidak nyaman.
Flexing sering terlihat dalam berbagai bentuk, misalnya terlalu sering membicarakan barang-barang baru yang dimiliki, menyombongkan fasilitas yang diberikan orang tua, atau membandingkan diri dengan teman yang dianggap “kurang beruntung.”
Hal-hal seperti itu mungkin terlihat sepele, tetapi dapat menimbulkan jarak dalam pertemanan.
Banyak orang yang akhirnya merasa malas berinteraksi karena menganggap sikap tersebut sombong dan tidak tulus.
Dalam pergaulan, sikap rendah hati dan sederhana jauh lebih dihargai.
Remaja yang bijak tidak perlu menonjolkan apa yang dimiliki untuk mendapat pengakuan.
Sebaliknya, ia berusaha membangun hubungan berdasarkan rasa saling menghormati dan menghargai, bukan karena kekayaan atau penampilan luar.
Dampak negatif baik bagi diri sendiri maupun bagi hubungan sosial di sekitarnya. Berikut sepuluh dampak yang perlu diwaspadai.
1. Menimbulkan rasa ilfeel di kalangan teman
Teman akan merasa tidak nyaman saat seseorang terlalu sering membicarakan barang atau kemewahan yang dimiliki.
Akibatnya, hubungan pertemanan menjadi renggang dan suasana menjadi canggung.
2. Membentuk citra sombong dan tidak rendah hati
Kebiasaan pamer membuat seseorang terlihat ingin menonjolkan diri. Hal ini bisa menimbulkan kesan sombong dan membuat orang lain enggan bergaul.
3. Menghilangkan rasa syukur
Saat fokus pada apa yang ingin dipamerkan, seseorang cenderung lupa menghargai apa yang sudah dimiliki.
Flexing perlahan mengikis rasa syukur dan menumbuhkan sifat tidak pernah puas.
4. Menumbuhkan sifat konsumtif
Demi terlihat lebih unggul, remaja bisa terdorong membeli barang-barang yang sebenarnya tidak diperlukan.
Kebiasaan ini bisa berlanjut menjadi pola hidup boros dan tidak bijak dalam mengatur keuangan.
5. Membuat seseorang bergantung pada pengakuan orang lain
Flexing menumbuhkan kebiasaan mencari perhatian. Ketika tidak mendapat pujian, seseorang bisa merasa kurang percaya diri dan kehilangan jati diri.
6. Menimbulkan iri dan kesenjangan sosial
Pamer berlebihan dapat menimbulkan rasa iri pada orang lain, bahkan memicu persaingan tidak sehat di lingkungan pertemanan.
7. Mengganggu kesehatan mental
Terus-menerus membandingkan diri dan berusaha tampil sempurna bisa membuat seseorang merasa tertekan.
Akhirnya, timbul rasa cemas, stres, atau minder jika tidak mampu mempertahankan citra yang dibuat.
8. Mengikis ketulusan dalam pergaulan
Hubungan yang dibangun atas dasar pamer dan gengsi tidak akan bertahan lama.
Flexing membuat seseorang sulit membangun pertemanan yang jujur dan tulus.
9. Menurunkan kepercayaan orang lain
Orang yang gemar pamer sering dianggap berlebihan dan sulit dipercaya. Ketika ucapan tidak sejalan dengan sikap, kepercayaan pun perlahan hilang.
10. Menghalangi perkembangan diri
Terlalu fokus pada penampilan luar membuat seseorang lupa untuk memperbaiki diri dari dalam.
Padahal, perkembangan sejati berasal dari kerja keras, bukan dari apa yang bisa dipamerkan.
Flexing mungkin tampak menyenangkan di awal, tetapi dampaknya bisa memengaruhi karakter dan hubungan sosial dalam jangka panjang.
Remaja seharusnya memahami bahwa menjadi menarik tidak harus dengan pamer.
Justru, pribadi yang sederhana, sopan, dan apa adanya akan lebih disenangi banyak orang.
Daripada sibuk menunjukkan apa yang dipunya, akan lebih baik menunjukkan prestasi, kepedulian, dan sikap baik yang bermanfaat bagi sekitar.