TRENGGALEK - Akhir-akhir ini, istilah mental health sering sekali terdengar di mana-mana.
Di media sosial, banyak orang menulis, “Aku lagi nggak baik-baik aja,” atau “Aku kayaknya lagi kena mental issue.”
Padahal, kalau diperhatikan, tidak semua yang merasa seperti itu benar-benar mengalami gangguan mental.
Ada juga yang sebenarnya hanya malas, tapi menyamarkannya dengan kata “lagi nggak sanggup.”
Fenomena ini semakin sering terjadi, terutama di kalangan anak muda.
Banyak yang merasa kehilangan semangat, lalu buru-buru menyimpulkan dirinya sedang “mental down”.
Padahal, mungkin bukan mentalnya yang sedang jatuh hanya kemauan yang sudah melemah karena terlalu sering menuruti rasa nyaman.
1. Ketika Malas Dibilang Mental
Seseorang yang benar-benar terkena gangguan mental biasanya berjuang keras setiap hari hanya untuk bisa menjalani hal kecil.
Bangun dari tempat tidur saja bisa terasa berat, apalagi melakukan rutinitas lain. Mereka bukan tidak mau, tetapi benar-benar tidak mampu.
Sedangkan orang yang malas sering kali masih punya tenaga dan waktu, hanya saja tidak digunakan.
Ia bisa bermain ponsel seharian, tidur hingga siang, dan tetap berkata, “Aku capek, mental aku lagi drop.”
Padahal bukan mentalnya yang lelah, melainkan dirinya yang terlalu nyaman dalam ketenangan.
Banyak yang mengira tidak semangat adalah tanda depresi. Padahal, terkadang itu hanya tanda seseorang terlalu sering menunda tanggung jawab. Tidak semua rasa malas harus diberi label “mental issue”.
2. Tidur Berlebihan, Tapi Masih Mengeluh Capek
Ada orang yang tidurnya sudah cukup, bahkan berlebihan, tapi masih merasa lelah. Padahal tubuhnya sehat, tidak sedang sakit, dan tidak sedang banyak pikiran.
Namun karena terbiasa bermalas-malasan, tubuh pun akhirnya jadi berat untuk diajak produktif.
Berbeda dengan mereka yang benar-benar mengalami gangguan mental rasa lelah mereka muncul dari tekanan batin dan pikiran yang terus berjalan tanpa henti, bukan karena terlalu banyak rebahan.
Kalau setiap kali disuruh melakukan sesuatu selalu berkata, “Aku lagi nggak sanggup,” padahal tidak ada beban berat yang benar-benar menekan, maka yang sedang terjadi bukan masalah mental, tapi kurangnya kemauan untuk bergerak.
3. Menyalahgunakan Kata “Overthinking”
Sekarang kata overthinking sudah seperti alasan seribu umat. Setiap tidak bisa fokus, setiap malas, setiap tidak mau keluar rumah semua dikaitkan dengan overthinking.
Padahal, overthinking bukan sekadar berpikir terlalu banyak, tetapi ketika pikiran benar-benar tidak bisa berhenti dan membuat diri merasa tidak tenang.
Namun banyak orang yang sebenarnya hanya sedang tidak ingin menghadapi kenyataan.
Mereka menganggap diri sedang overthinking padahal sedang menghindar dari tanggung jawab.
Akhirnya, istilah kesehatan mental yang seharusnya serius, malah digunakan sebagai tameng agar terlihat terluka, padahal hanya enggan berusaha.
4. Mengeluh Tanpa Aksi, Menyalahkan Tanpa Introspeksi
Perbedaan paling jelas antara orang yang mengalami gangguan mental dan orang yang malas adalah cara mereka menghadapi keadaan.
Orang yang benar-benar sedang terganggu mentalnya akan berusaha mencari jalan keluar, meski pelan-pelan.
Mereka mencoba mencari pertolongan, bercerita kepada orang terdekat, atau sekadar menenangkan diri.
Sedangkan orang yang malas hanya pandai mengeluh.
Ia tahu harus berubah, tapi tidak mau. Ia sadar harus mulai, tapi lebih memilih menunda.
Setiap ditanya kenapa, jawabannya selalu sama: “Aku lagi nggak bisa, mentalku lagi drop.”
Padahal, yang sebenarnya drop bukan mentalnya, tapi disiplinnya yang hilang karena kebiasaan menunda.
5. Terjebak Dalam Kenyamanan yang Salah
Rasa nyaman memang bisa menenangkan, tapi kalau berlebihan, justru bisa mematikan semangat.
Banyak orang yang terlalu nyaman dengan keadaan diam rebahan, menonton, atau bermain ponsel seharian sampai lupa bahwa hidup butuh gerak.
Orang seperti ini sering menutupi rasa malasnya dengan alasan “healing.” Padahal healing tidak berarti diam tanpa arah.
Healing seharusnya membantu pulih, bukan membuat seseorang semakin jauh dari tanggung jawabnya.
Jika setiap hari berlalu tanpa usaha, tanpa niat untuk memperbaiki diri, maka bukan mental yang sedang sakit ,melainkan keinginan untuk berproses yang sudah mati.
6. Belajar Bedakan Antara Butuh Istirahat dan Malas
Wajar jika seseorang merasa lelah dan ingin istirahat. Semua orang butuh waktu untuk berhenti sejenak dan menenangkan diri.
Tapi, istirahat tidak sama dengan berhenti total. Istirahat seharusnya menjadi jeda untuk mengisi ulang tenaga, bukan alasan untuk tidak melakukan apa pun.
Kalau istirahat sudah menjadi kebiasaan terus-menerus tanpa ada usaha untuk bangkit, itu bukan pemulihan. Itu kemunduran yang dibungkus kata self-care.