Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Dilema Troli Kembali Viral, Pilih Selamatkan Lima Orang atau Korbankan Satu Nyawa? Ini Penjelasan Moral yang Bikin Pusing

Adinda Putri Sefiana • Kamis, 8 Januari 2026 | 09:35 WIB

 

Dilema troli kembali menjadi perbincangan hangat setelah cuplikan video kuliah filsafat dari Universitas Harvard yang beredar luas di YouTube.
Dilema troli kembali menjadi perbincangan hangat setelah cuplikan video kuliah filsafat dari Universitas Harvard yang beredar luas di YouTube.

TRENGGALEK - Dilema troli kembali menjadi perbincangan hangat setelah cuplikan video kuliah filsafat dari Universitas Harvard yang beredar luas di YouTube. Video tersebut mengupas persoalan klasik tentang moralitas, keadilan, dan pilihan ekstrem yang memaksa manusia menentukan siapa yang harus diselamatkan dan siapa yang harus dikorbankan.

Dalam dilema troli, seseorang dihadapkan pada situasi ekstrem: sebuah kereta melaju kencang dan akan menabrak lima pekerja di rel.

Satu-satunya cara menyelamatkan mereka adalah dengan mengalihkan kereta ke jalur lain, namun di jalur tersebut terdapat satu orang yang pasti akan tewas. Pilihan ini menimbulkan pertanyaan mendasar: mana yang lebih benar secara moral?

Mayoritas peserta dalam diskusi tersebut memilih mengalihkan kereta demi menyelamatkan lima nyawa meskipun harus mengorbankan satu orang.

Alasan utamanya sederhana: lebih baik satu orang meninggal daripada lima orang. Prinsip ini kerap dianggap sebagai pilihan paling rasional dan manusiawi.

Ketika Dilema Troli Menjadi Lebih Rumit

Namun dilema troli tidak berhenti di situ. Dalam skenario lanjutan, peserta diminta membayangkan situasi berbeda. Kali ini, mereka bukan pengemudi kereta, melainkan seorang pengamat yang berdiri di atas jembatan. Untuk menghentikan kereta dan menyelamatkan lima orang, satu-satunya cara adalah mendorong seseorang dari jembatan ke jalur kereta agar kereta berhenti.

Baca Juga: Melampaui Batas Kota: Suka Duka Menjelajahi Jarak dan Waktu!

Menariknya, mayoritas peserta yang sebelumnya setuju mengorbankan satu nyawa kini menolak mendorong orang tersebut. Padahal, hasil akhirnya sama: satu orang mati, lima orang selamat. Perbedaan respons ini memicu diskusi panjang tentang apa yang sebenarnya menjadi dasar penilaian moral manusia.

Sebagian berpendapat bahwa mendorong seseorang secara langsung terasa seperti tindakan pembunuhan aktif, sementara mengalihkan kereta dianggap sebagai konsekuensi tidak langsung. Di sinilah garis tipis antara tindakan dan akibat mulai diperdebatkan.

Konsekuensialisme vs Moral Kategoris

Diskusi dilema troli ini memperlihatkan dua pendekatan utama dalam filsafat moral. Pendekatan pertama adalah konsekuensialisme, yaitu pandangan bahwa moralitas suatu tindakan ditentukan oleh hasil akhirnya. Jika hasilnya lebih banyak menyelamatkan nyawa, maka tindakan tersebut dianggap benar.

Pendekatan ini menjadi dasar dari utilitarianisme, teori moral yang dipopulerkan filsuf Inggris Jeremy Bentham. Menurut Bentham, tindakan yang benar adalah tindakan yang memaksimalkan kebahagiaan dan meminimalkan penderitaan bagi sebanyak mungkin orang.

Baca Juga: Kenapa Kecoa Tak Boleh Diinjak? Berikut Penjelasan Ilmiahnya, Termasuk Soal Cacing Pitak

Namun, pendekatan kedua menekankan moral kategoris. Pandangan ini menyatakan bahwa ada tindakan yang secara intrinsik salah, apa pun konsekuensinya. Membunuh orang tak bersalah, misalnya, dianggap salah meskipun bertujuan menyelamatkan lebih banyak nyawa. Pemikiran ini banyak dipengaruhi oleh filsuf Jerman, Immanuel Kant.

Dari Rumah Sakit hingga Meja Operasi

Untuk menguji konsistensi moral, dilema troli kemudian diperluas ke konteks lain, seperti dunia medis. Seorang dokter dihadapkan pada pilihan merawat satu pasien kritis atau lima pasien dengan luka sedang. Mayoritas memilih menyelamatkan lima orang.

Namun, situasi kembali berubah ketika dilema menyentuh transplantasi organ. Bayangkan ada lima pasien membutuhkan organ vital dan satu orang sehat yang bisa dikorbankan. Hampir semua orang menolak mengambil organ orang sehat tersebut, meskipun tindakan itu bisa menyelamatkan lima nyawa.

Kasus ini menegaskan bahwa naluri moral manusia tidak semata-mata menghitung jumlah nyawa, tetapi juga mempertimbangkan hak individu, niat, dan tindakan langsung.

Mengapa Dilema Troli Terus Relevan?

Dilema troli bukan sekadar permainan pikiran. Ia mencerminkan konflik nyata dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari kebijakan publik, hukum, hingga teknologi seperti kecerdasan buatan dan mobil tanpa pengemudi.

Filsafat moral, sebagaimana ditegaskan tidak selalu memberi jawaban pasti. Justru, filsafat mengajak manusia mempertanyakan keyakinan yang selama ini dianggap pasti. Proses ini bisa mengguncang, tetapi juga membuka pemahaman baru tentang siapa kita dan bagaimana kita membuat keputusan.

Pada akhirnya, dilema troli menunjukkan bahwa moralitas bukan sekadar soal benar atau salah, melainkan pergulatan antara akal, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#universitas harvard #dilema troli