JAKARTA - Konsep pensiun everywhere semakin banyak dibicarakan oleh generasi usia 40 tahun ke atas yang ingin menikmati masa pensiun dengan lebih fleksibel, tenang, dan tetap produktif. Salah satu kota yang dinilai memenuhi kriteria destinasi pensiun impian dalam konsep pensiun everywhere adalah Salatiga, kota kecil di Jawa Tengah yang dikenal sejuk, toleran, dan ramah pendatang.
Hal tersebut dibahas dalam sebuah podcast yang mengulas Salatiga dari sudut pandang personal narasumber yang merupakan putri daerah. Dalam episode tersebut, Salatiga disebut sebagai salah satu kota pensiunan sejak era kolonial Belanda karena letaknya yang berada di kaki Gunung Merbabu dan Telomoyo.
Kota Tertua dan Paling Toleran
Salatiga dikenal sebagai kota kedua tertua di Indonesia dan kerap masuk dalam daftar kota paling toleran secara nasional. Keberagaman penduduknya, mulai dari warga lokal hingga mahasiswa dari berbagai daerah, membuat kota ini sering dijuluki sebagai “Indonesia Mini”.
Dalam konteks pensiun everywhere, toleransi dan rasa aman menjadi faktor penting karena menentukan kenyamanan hidup jangka panjang. Lingkungan sosial Salatiga dinilai relatif inklusif dan mudah menerima pendatang baru.
Biaya Hidup Relatif Terjangkau
Salah satu pertimbangan utama dalam memilih destinasi pensiun everywhere adalah biaya hidup. Mengacu pada UMK Salatiga 2024 yang berada di kisaran Rp2,3 juta, biaya hidup di kota ini dinilai masih ramah di kantong.
Untuk akomodasi, sewa kamar kost atau coliving berkisar Rp1 jutaan per bulan dengan fasilitas AC dan kamar mandi dalam. Sementara itu, harga sewa rumah tahunan mulai dari belasan juta rupiah. Bagi yang ingin membeli rumah, masih tersedia hunian tipe dua kamar dengan harga ratusan juta rupiah.
Biaya makan pun relatif murah. Makanan khas seperti soto bisa ditemukan dengan harga Rp10 ribu per porsi. Menu populer seperti bakso, mie ayam, atau nasi goreng berada di kisaran Rp20–25 ribu. Jika memasak sendiri, pengeluaran makan per bulan bisa ditekan hingga Rp1–2 juta.
Fasilitas Kesehatan Cukup Lengkap
Dalam konsep pensiun everywhere, fasilitas kesehatan menjadi kebutuhan krusial. Hingga Maret 2024, Salatiga memiliki delapan rumah sakit, termasuk RSUD kelas B, rumah sakit TNI AD kelas C, rumah sakit ibu dan anak, rumah sakit paru, serta rumah sakit milik Universitas Kristen Satya Wacana.
Menariknya, salah satu rumah sakit di Salatiga juga menawarkan layanan holistic treatment yang menggabungkan terapi herbal dan akupunktur dengan medis modern. Selain itu, tersedia laboratorium kesehatan nasional seperti Prodia dan Pramita.
Sebagai kota pensiunan, Salatiga juga memiliki sedikitnya empat panti wreda atau panti jompo yang sebagian besar dikelola yayasan keagamaan.
Iklim Sejuk dan Lingkungan Nyaman
Salatiga berada di kawasan pegunungan dengan iklim sejuk. Meski suhu kini lebih hangat dibanding dua dekade lalu akibat perubahan iklim, udara Salatiga masih tergolong nyaman dibanding kota besar. Trotoar yang masih tersedia di sejumlah titik membuat aktivitas berjalan kaki relatif aman dan mendukung gaya hidup sehat bagi pensiunan.
Baca Juga: Jalur Trenggalek–Pacitan via Jalur Selatan, Rute Berkelok dengan View Hutan dan Pantai Genting
Komunitas Aktif dan Kehidupan Sosial
Dari sisi komunitas, Salatiga menawarkan beragam pilihan. Mulai dari komunitas olahraga seperti lari, sepeda, badminton, hingga komunitas hobi, sosial, relawan, profesi, dan keagamaan. Di tingkat RT dan RW, kegiatan warga juga rutin digelar, mulai dari arisan, tirakatan, hingga acara wisata bersama.
Kondisi ini dinilai memudahkan pendatang untuk membangun relasi sosial baru, sebuah aspek penting dalam menjalani masa pensiun.
Transportasi dan Fasilitas Penunjang
Transportasi umum di Salatiga masih terbatas pada angkot, namun kini sudah tersedia ojek dan taksi online. Kota ini tidak memiliki bandara maupun stasiun kereta, tetapi akses ke Semarang dan Solo dapat ditempuh kurang dari satu jam melalui jalan tol.
Untuk fasilitas penunjang, Salatiga belum memiliki mal modern. Ramayana menjadi pusat perbelanjaan utama, didukung supermarket lokal dan satu jaringan nasional. Minimarket, restoran cepat saji, kafe lokal, taman kota, serta destinasi wisata alam di sekitar Kopeng dan Telomoyo melengkapi kebutuhan gaya hidup pensiunan.
Baca Juga: Bali Pulau Dewata: Sejarah, Budaya, Ritual, Dan Pesona Wisata Yang Mendunia
Dengan berbagai keunggulan tersebut, Salatiga dinilai layak dipertimbangkan sebagai destinasi pensiun everywhere, terutama bagi mereka yang mencari keseimbangan antara biaya hidup, kenyamanan, dan kehidupan sosial yang hangat.
Editor : Natasha Eka Safrina