JAKARTA - Desa tanpa jalan raya mungkin terdengar mustahil bagi sebagian orang. Namun di Belanda, ada sebuah desa yang justru menjadikan ketiadaan jalan sebagai identitas dan daya tarik utama. Desa itu bernama Desa Giethoorn, sebuah permukiman indah yang dijuluki Venesia dari Utara dan dikenal sebagai salah satu desa terindah di dunia.
Terletak di Provinsi Overijssel, Belanda, Desa Giethoorn dihuni sekitar 2.795 penduduk. Desa ini menjadi destinasi wisata populer, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, karena menawarkan suasana tenang, bersih, dan jauh dari hiruk-pikuk kendaraan bermotor.
Asal-usul Nama Desa Giethoorn
Sejarah Desa Giethoorn bermula pada tahun 1230 Masehi. Kala itu, sekelompok buronan melarikan diri dan menetap di wilayah ini. Saat pertama kali datang, mereka menemukan banyak tanduk kambing yang tersisa akibat banjir besar lima tahun sebelumnya.
Dalam bahasa Belanda, kambing disebut geit. Dari temuan tanduk tersebut, wilayah ini kemudian dinamai Geytenhoren, yang lambat laun berubah menjadi Giethoorn. Nama itu menjadi saksi sejarah awal terbentuknya desa unik ini.
Dari Tanah Rawa Menjadi Desa Kanal
Pada awalnya, Giethoorn bukanlah desa dengan kanal-kanal indah seperti sekarang. Wilayah ini merupakan tanah rawa yang kaya akan gambut, yakni material vegetatif yang terbentuk dari sisa tumbuhan selama ribuan tahun.
Warga setempat menggali gambut tersebut untuk berbagai keperluan. Proses penggalian ini secara alami menciptakan pulau-pulau kecil yang dikelilingi genangan air, parit, dan kolam. Seiring waktu, kanal-kanal dibuat untuk menghubungkan area tersebut, hingga akhirnya membentuk sistem jalur air yang menjadi ciri khas Desa Giethoorn.
Desa Tanpa Jalan Raya
Keunikan utama Desa Giethoorn adalah ketiadaan jalan raya yang bisa dilalui mobil atau sepeda motor. Sebagai gantinya, kanal air menjadi jalur transportasi utama warga dan wisatawan.
Penduduk menggunakan perahu kecil untuk beraktivitas sehari-hari, sementara di sepanjang kanal tersedia jalan setapak sempit bagi pejalan kaki. Sistem ini menjadikan Giethoorn sebagai salah satu desa paling sunyi dan bebas polusi di dunia.
Tak heran jika Desa Giethoorn kerap disebut sebagai desa paling bersih dan tenang di Belanda.
Rumah Jerami dan Jembatan Kayu
Pemandangan di Desa Giethoorn semakin memesona dengan rumah-rumah tradisional beratap jerami yang sebagian besar dibangun pada abad ke-18 dan ke-19. Hampir setiap rumah memiliki halaman luas dengan taman tertata rapi, rumput hijau, serta bunga warna-warni yang bermekaran.
Desa ini juga memiliki sekitar 176 jembatan kayu kecil yang melintasi kanal-kanal air. Jembatan inilah yang memperkuat julukan Giethoorn sebagai negeri dongeng atau fairy tale village.
Dari Desa Sepi Menjadi Ikon Wisata Dunia
Pariwisata di Desa Giethoorn mulai berkembang pada 1958 setelah sebuah film Belanda melakukan pengambilan gambar di kawasan ini. Sejak itu, ketertarikan publik terhadap desa unik ini meningkat pesat.
Pada 1990-an, wisatawan dari Belgia dan Jerman mulai berdatangan. Kini, berkat promosi digital dan media sosial, Giethoorn semakin dikenal luas hingga ke berbagai negara.
Awalnya, warga setempat sempat khawatir lonjakan wisatawan akan mengganggu privasi dan ketenangan desa. Namun seiring waktu, masyarakat mulai beradaptasi dan memanfaatkan peluang ekonomi dengan membuka usaha penyewaan perahu, kafe, restoran, serta penginapan.
Pesona Giethoorn di Setiap Musim
Desa Giethoorn sangat populer dikunjungi saat musim semi dan musim panas, terutama pada Juni hingga Agustus. Pada periode ini, taman-taman dipenuhi bunga tulip yang bermekaran, dengan suhu hangat yang nyaman untuk berkeliling desa menggunakan perahu.
Sementara itu, saat musim dingin tiba, Giethoorn berubah menjadi negeri ajaib. Kanal dan danau membeku, membuat perahu tak lagi digunakan. Sebagai gantinya, wisatawan bisa berjalan kaki atau bermain seluncur es di atas kanal beku.
Menurut data, sekitar satu juta wisatawan mengunjungi Desa Giethoorn setiap tahunnya. Angka ini meningkat signifikan saat musim liburan, menjadikan desa kecil ini sebagai salah satu ikon wisata Belanda yang mendunia.
Editor : Natasha Eka Safrina