JAKARTA – Festival Munaroh Biak Numfor menjadi salah satu bukti bahwa Papua bukan hanya kaya akan keindahan alam, tetapi juga memiliki tradisi budaya yang kuat dan masih dijaga secara turun-temurun. Festival ini mengemas fenomena alam dan tradisi lokal menjadi pesta rakyat yang sarat makna spiritual, budaya, dan identitas masyarakat adat Biak Numfor.
Festival Munaroh menonjolkan beragam tradisi khas suku-suku di Biak Numfor, salah satunya atraksi Apen Bayeren, tradisi berjalan di atas bara batu panas yang berasal dari Kampung Adoki. Tradisi ini bukan sekadar pertunjukan ekstrem, melainkan ritual sakral yang mengandung unsur doa, keberanian, dan kepercayaan kepada Sang Pencipta.
Sejak awal prosesi, Festival Munaroh Biak Numfor menghadirkan tarian tradisional Biak yang diiringi syair berbahasa daerah. Syair tersebut bukan lagu biasa, melainkan mantra atau doa yang dipanjatkan agar para pelaku atraksi diberi kekuatan dan perlindungan sebelum melangkah di atas batu bara yang telah dipanaskan selama kurang lebih dua jam.
Atraksi Apen Bayeren, Ujian Mental dan Spiritualitas
Sebelum atraksi dimulai, para penari dan pelaku ritual menempati sisi kiri dan kanan bongkahan batu panas. Mereka hanya akan berjalan setelah mendapat izin dari tetua adat atau Alfara Siapen. Pinang sirih yang telah dikunyah dibubuhkan ke telapak kaki sebagai bagian dari ritual.
Menariknya, para pelaku Apen Bayeren berjalan dengan tenang tanpa menunjukkan ekspresi kesakitan. Menurut pengakuan salah satu tetua adat, kunci utama keberhasilan atraksi ini bukanlah kekuatan fisik, melainkan hati yang murni dan doa. Jika seseorang melanggar aturan adat atau memaksakan diri tanpa kesiapan spiritual, risiko luka bakar bisa terjadi.
Tradisi Apen Bayeren sendiri berasal dari budaya bakar batu atau barapen yang biasa dilakukan masyarakat Papua saat pesta adat. Selain menjadi simbol keberanian, ritual ini juga menjadi sarana penobatan tokoh adat dan pemberian marga, sekaligus memperkuat identitas suku-suku di Biak Numfor.
Baca Juga: Tak Punya Jalan Raya, Desa Giethoorn Dijuluki Venesia dari Utara dan Jadi Desa Terindah di Dunia
Negeri Dongeng dan Telaga Biru di Tengah Hutan
Tak hanya budaya, Biak Numfor juga menawarkan pesona alam yang luar biasa. Salah satu destinasi yang mencuri perhatian adalah Negeri Dongeng, kawasan hutan asri dengan pepohonan rindang, akar-akar besar yang muncul ke permukaan, serta lumut hijau yang menciptakan suasana magis layaknya negeri fantasi.
Di dalam hutan Negeri Dongeng terdapat Telaga Biru Samares, danau air tawar dengan warna biru kontras yang memukau. Pengunjung bisa berenang, berjalan di atas batang pohon yang melintang di telaga, hingga melakukan diving untuk mengeksplorasi kedalaman danau yang mencapai sekitar 15 meter. Airnya yang dingin dan jernih membuat pengalaman berenang terasa berbeda dari danau pada umumnya.
Surga Diving dan Jejak Perang Dunia II
Biak Numfor juga dikenal sebagai salah satu surga diving di Papua. Salah satu spot favorit adalah Catalina Wreck, bangkai pesawat amfibi peninggalan Perang Dunia II yang berada di kedalaman 18–30 meter. Bangkai pesawat buatan Amerika Serikat ini kini menjadi rumah bagi terumbu karang dan beragam biota laut.
Selain itu, terdapat pula situs selam unik seperti Woody Cave di Kepulauan Padaido. Lokasi ini menawarkan sensasi menyelam di labirin gua bawah laut dengan pintu-pintu alami, karang indah, dan ikan-ikan besar yang berenang bebas.
Potensi Perikanan dan UMKM Lokal
Letak Biak Numfor yang berbatasan langsung dengan Samudra Pasifik menjadikannya kaya potensi perikanan, khususnya tuna. Data pemerintah menyebutkan potensi laut Biak mencapai lebih dari satu juta ton per tahun. Tak hanya diekspor, kekayaan laut ini juga mendorong tumbuhnya UMKM, seperti usaha ikan asap yang menjadi oleh-oleh khas bagi wisatawan.
Dengan kekayaan budaya, wisata alam, sejarah, hingga potensi ekonomi, tak heran jika Biak Numfor dijuluki permata di Teluk Cendrawasih. Festival Munaroh menjadi pintu masuk untuk mengenal Papua lebih dekat, autentik, dan penuh makna.
Editor : Natasha Eka Safrina