JAKARTA - Fenomena kilat yang muncul lebih dulu dibanding suara petir ternyata memiliki penjelasan ilmiah. Penyebab utama suara petir terdengar belakangan adalah karena cahaya dari kilat bergerak jauh lebih cepat dibandingkan gelombang bunyi guntur di udara.
Saat cuaca mendung dan hujan mulai turun, masyarakat biasanya lebih dulu melihat kilatan cahaya di langit sebelum mendengar suara menggelegar beberapa detik kemudian. Fenomena ini sering dianggap biasa, padahal berkaitan langsung dengan proses fisika di atmosfer.
Dalam penjelasan ilmiah, kilat merupakan gelombang cahaya, sedangkan guntur adalah gelombang bunyi. Karena kecepatan cahaya jauh melampaui kecepatan suara, mata manusia dapat melihat kilat lebih dahulu sebelum telinga mendengar bunyi petir.
Baca Juga: Mengerikan! 10 Sambaran Petir Terbesar dan Terjelas yang Terekam Kamera, Pohon Langsung Terbelah
Kilat dan Guntur Berasal dari Gesekan Muatan Listrik di Awan
Fenomena petir bermula dari awan hujan yang berisi jutaan tetes air dan bongkahan es bermuatan listrik positif maupun negatif. Ketika turbulensi udara meningkat, muatan listrik di dalam awan bergerak cepat dan saling bergesekan.
Gesekan tersebut memunculkan listrik statis hingga akhirnya menghasilkan pelepasan energi besar berupa cahaya kilat dan suara guntur. Proses ini mirip dengan rambut yang berdiri akibat gesekan sisir karena adanya listrik statis.
Kilat sendiri muncul sebagai cahaya terang di langit, sedangkan suara yang menyertainya disebut guntur. Keduanya sebenarnya terjadi hampir bersamaan dalam satu peristiwa pelepasan energi listrik di atmosfer.
Fenomena ini biasanya lebih sering terjadi saat musim hujan karena pembentukan awan cumulonimbus meningkat. Awan jenis ini dikenal sebagai penghasil hujan deras, angin kencang, dan petir.
Dalam kondisi tertentu, sambaran petir juga dapat membahayakan manusia dan memicu kerusakan perangkat elektronik akibat lonjakan listrik.
Baca Juga: Kenapa Suara Petir Datang Setelah Kilat? Ternyata Ini Penyebab Guntur Terdengar Telat Saat Hujan
Cahaya Kilat Bergerak 880 Ribu Kali Lebih Cepat dari Bunyi
Alasan suara petir datang terlambat terletak pada perbedaan kecepatan cahaya dan bunyi. Cahaya bergerak sangat cepat sehingga kilatan petir dapat langsung terlihat sesaat setelah terjadi.
Sementara itu, suara guntur membutuhkan waktu untuk merambat melalui udara sebelum akhirnya sampai ke telinga manusia. Dalam penjelasan video disebutkan kecepatan cahaya bahkan sekitar 880 ribu kali lebih cepat dibandingkan kecepatan bunyi.
Baca Juga: Terungkap Penyebab Suara Petir Menggelegar, Ternyata Bukan dari Kilatnya Langsung
Karena itulah, jeda beberapa detik antara kilat dan suara petir sering terjadi saat badai berlangsung. Semakin jauh lokasi sambaran petir, semakin lama pula suara guntur terdengar setelah kilatan muncul.
Sebaliknya, jika suara guntur terdengar hampir bersamaan dengan kilat, itu menandakan lokasi petir berada cukup dekat dan berpotensi berbahaya bagi manusia di sekitarnya.
Fenomena ini juga membuat banyak orang refleks menutup telinga sesaat setelah melihat kilat di langit karena sudah memperkirakan suara guntur keras akan segera terdengar.
Petir Bisa Berbahaya Saat Musim Hujan
Meski terlihat menarik, petir tetap menjadi salah satu fenomena alam paling berbahaya saat musim hujan. Sambaran petir dapat memicu kebakaran, merusak alat elektronik, hingga menyebabkan cedera serius atau kematian.
Karena itu masyarakat diimbau segera mencari tempat aman ketika melihat kilat atau mendengar suara guntur. Area terbuka, pohon tinggi, tiang listrik, dan benda berbahan logam sebaiknya dihindari saat badai petir terjadi.
Selain itu, perangkat elektronik di rumah juga dianjurkan dicabut sementara untuk menghindari kerusakan akibat lonjakan arus listrik. Aktivitas menggunakan telepon kabel atau berada dekat jendela juga sebaiknya dibatasi ketika hujan deras disertai petir.
Fenomena suara petir yang terdengar setelah kilat pada akhirnya bukan disebabkan guntur “terlambat muncul”, melainkan karena hukum fisika tentang perbedaan kecepatan cahaya dan bunyi di atmosfer bumi.
Penjelasan sederhana ini sekaligus menunjukkan bahwa fenomena cuaca yang sering dianggap biasa ternyata menyimpan proses ilmiah yang sangat menarik dan kompleks.
Baca Juga: Primbon Jawa Ungkap Arah Jodoh Berdasarkan Weton dan Nogo Dino, Jomblo Wajib Tahu
Editor : Dyah Wulandari