Trenggaleknjenggelek – Tradisi adat Larung Sembonyo kembali digelar masyarakat nelayan di pesisir selatan Trenggalek, tepatnya di Pantai Prigi, Kecamatan Watulimo, pada tahun 2025 ini.
Upacara adat tahunan tersebut merupakan warisan budaya turun-temurun yang melambangkan ungkapan rasa syukur para nelayan atas hasil tangkapan laut yang melimpah serta doa keselamatan selama melaut.
Larung Sembonyo dikenal sebagai prosesi sakral yang melibatkan berbagai perlengkapan ritual seperti sesajen, patung manten, hingga tumpeng agung.
Semua sesaji itu kemudian dilarung ke tengah laut oleh para nelayan.
"Kita semua tahu labuh laut ini adalah upacara adat yang di situ mengungkapkan rasa syukur dari seluruh nelayan Pantai Prigi atas limpahan karunia dan permohonan kepada Tuhan atas panen-panen ikan di Prigi lebih banyak lagi," ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Trenggalek, Sunyoto.
Ia menambahkan, pelaksanaan tahun ini lebih menekankan pada kemandirian masyarakat nelayan setempat.
Pasalnya, dukungan dari pemerintah tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya.
"Tahun ini masyarakat nelayan Prigi lebih mandiri, hari ini nampaknya supporting dari pemerintah tidak seperti dulu lagi. Jadi kita dalam rangka efisiensi, tidak banyak yang bisa diberikan," tuturnya.
Upacara Larung Sembonyo tak hanya menjadi simbol budaya dan kepercayaan masyarakat nelayan.
Tetapi juga membuka peluang bagi pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di kawasan pesisir Trenggalek.
Masyarakat berharap, tradisi ini terus dijaga kelestariannya dan bisa dikembangkan untuk memberi manfaat lebih luas.
"Harapannya adat ini tetap dilestarikan, syukur-syukur dikembangkan sehingga ada efek ekonomi atau yang lain di Watulimo," lanjut Sunyoto. (kho)