Trenggaleknjenggelek – Upacara adat labuh laut larung sembonyo di Teluk Prigi, Kabupaten Trenggalek, bukan sekadar ritual budaya tahunan.
Di balik tradisi ini tersimpan kisah cinta yang telah menjadi cerita rakyat turun-temurun: asmara antara Raden Tumenggung Yudho Negoro dan Putri Gambar Inten.
Legenda menyebutkan bahwa pernikahan antara Raden Tumenggung Yudho Negoro dan Putri Gambar Inten bukan hanya menyatukan dua sosok dalam ikatan cinta.
Namun, pernikahan itu juga menjadi simbol pembuka kawasan pesisir selatan, termasuk wilayah Teluk Prigi.
Pernikahan itu terjadi pada hari Senin Kliwon dalam kalender Jawa.
Sejak saat itu, masyarakat mulai menggelar tradisi labuh laut larung sembonyo sebagai bagian dari janji dan warisan budaya yang harus dijaga.
Dalam cerita rakyat, Raden Tumenggung Yudho Negoro hanya diizinkan menikahi Putri Gambar Inten dengan syarat ia bersedia mengadakan ritual labuh laut setiap tahun.
Tak hanya itu, sang putri juga meminta agar tradisi tersebut diramaikan dengan pertunjukan seni seperti jaranan dan langgam tayub.
Kedua elemen budaya ini pun melebur menjadi satu kesatuan dalam prosesi larung sembonyo.
Tradisi labuh laut larung sembonyo dilaksanakan selama 40 hari, dengan puncak perayaan berlangsung pada hari ke-40.
Prosesi puncak biasanya dipusatkan di Teluk Prigi, dan menjadi momen sakral bagi masyarakat pesisir untuk menyampaikan rasa syukur atas hasil laut yang melimpah.
Selain sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur dan cerita masa lampau, larung sembonyo juga menjadi sarana doa dan harapan bagi keselamatan para nelayan saat melaut.
Warga percaya bahwa ritual ini mampu membawa berkah, menjaga keseimbangan alam, dan menjadi pengingat akan pentingnya menjaga harmoni antara manusia dan laut.
Tradisi larung sembonyo bukan hanya warisan budaya, tetapi juga representasi identitas dan sejarah yang mengikat masyarakat pesisir selatan Trenggalek dengan laut dan leluhurnya. (kho)
Editor : Akhmad Nur Khoiri