TRENGGALEK NJENGGELEK - Gamelan Jawa menjadi sebuah benda yang tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan Jawa.
Apalagi di setiap pertunjukan seni, gamelan Jawa selalui melibatkan gamelan Jawa sebagai musik pengiring.
Baca Juga: Gamelan Jawa Terpengaruh Kebudayaan India? Para Ahli Ungkap Asal Penamaannya
Tahukah kamu gamelan Jawa sebenarnya dapat dibedakan menjadi dua laras (tangga nada / titi nada), yaitu Slendro dan Pelog?
Menurut mitologi Jawa, gamelan bernada Slendro lebih tua usianya daripada gamelan Pelog.
Baca Juga: Sejarah Gamelan di Indonesia, Warisan Budaya Nusantara yang Mendunia
Slendro memiliki 5 (lima) nada per oktaf, yaitu 1 2 3 4 5 (C- D E+ G A) dengan interval yang sama atau kalau pun berbeda perbedaan intervalnya sangat kecil.
Sedangkan pelog memiliki 7 (tujuh) nada per oktaf, yaitu 1 2 3 4 5 6 7 (C+ D E- F# G# A B) dengan perbedaan interval yang besar.
Baca Juga: Tak Banyak yang Tahu! Ini Sejarah Lengkap Dangdut, Musik Rakyat Indonesia
Gamelan dapat dimainkan sebagai sebuah pertunjukkan musik tersendiri maupun pengiring tarian atau seni pertunjukkan seperti wayang kulit dan ketoprak.
Sebagai sebuah pertunjukkan tersendiri, musik Gamelan biasanya dipadukan dengan suara para penyanyi (penyanyi pria disebut wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana).
Baca Juga: Ellya Khadam: Ibu Dangdut Pertama yang Mengukir Sejarah Musik Indonesia
Dalam masyarakat Jawa, orkestra musik Gamelan biasanya disebut “Karawitan”. Berasal dari kata “rawit” yang berarti rumit, halus, kecil.
Mengapa disebut demikian? Karena memainkan Karawitan memang tidak sekedar berfokus pada bunyi yang dihasilkan oleh alat musik, tapi juga harus dapat memahami kedalaman makna dari musik yang sedang dimainkan tersebut.
Mengingat bahwa semua gending yang diciptakan berkorelasi dengan kehidupan manusia sehari-hari.
Misalnya: ada gending yang merujuk pada keselamatan, ucapan syukur, permintaan, permohonan, dan sebagainya.
Dengan memahami kedalaman tersebut maka sang pemain Gamelan dituntut untuk tidak memainkan alat-alat musik sekehendak hatinya, tetapi selalu berdasarkan konteks yang ada.
Inilah sebabnya mengapa memainkan gamelan seringkali dianggap “rumit”. Namun tetap mudah asal mau mempelajarinya. ****