TRENGGALEK NJENGGELEK - Tembang macapat merupakan salah satu jenis tembang Jawa yang masih eksis hingga saat ini.
Kendati demikan tembang macapat ternyata sulit dilacak sejarah awal penciptaannya dalam khasanah tembang Jawa.
Ahli epigraf Jawa Poerbatjaraka menyatakan bahwa tembang macapat lahir bersamaan dengan syair berbahasa Jawa tengahan, bilamana macapat mulai dikenal, belum diketahui secara pasti.
Di sisi lain Pigeud berpendapat bahwa tembang macapat digunakan pada awal periode Islam. Pernyataan Pigeud yang bersifat informasi perkiraan itu masih perlu diupayakan kesesuaian tahun yang pasti.
Tembang macapat selain dapat dilagukan secara individual, karya sastra ini juga dapat dipadukan dengan instrumen musik bernuansa Jawa, misalnya gamelan.
Dalam musik karawitan, tembang macapat biasanya disajikan dalam bentuk palaran, santiswaran, gerongan, dan sajian musik karawitan lainnya.
Baca Juga: Bentuknya Mirip, Tapi Hal Berikut yang Membedakan Slenthem dan Gender dalam Gamelan Jawa
Walaupun disajikan dalam bentuk berbeda, konvensi dalam tembang macapat harus tetap ditaati.
Rangkaian struktur dalam teks tembang macapat terdiri atas konvensi-konvensi khusus yang tidak terdapat dalam karya sastra Jawa lainnya.
Terdapat sebelas judul tembang macapat yang telah dikenal sampai saat ini. Masing-masing judul tembang memiliki bentuk dan aturan yang berbeda-beda.
Baca Juga: 6 Jenis Kendang dalam Gamelan Jawa, Nomor 2 Sering Mengiringi Campursari
Konvensi yang dimaksud terdiri atas guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan. Penjelasan klasifikasi di atas adalah sebagai berikut:
1. Guru Gatra
Menurut Supanggah guru gatra dipahami sebagai sesuatu yang telah terbentuk. Wis gatra berarti telah terbentuk.
Gatra dalam karawitan dimaknai sebagai wujud satu sabetan dalam empat ketukan. Hampir sama dengan makna gatra di atas, dalam tembang macapat makna ‘satu sabetan’ adalah sama dengan ‘satu tarikan nafas.’
Satu tarikan nafas dalam tembang macapat dilakukan pada tiap baris.
Baca Juga: Suaranya Menggetarkan Jiwa, Ternyata Ini Fungsi Gong dalam Gamelan Jawa
2. Guru Lagu
Guru lagu juga dapat disebut dengan dhong-dhing tembang. Dalam bahasa Indonesia, istilah guru lagu adalah istilah yang menunjuk pada huruf fokal yang terdapat pada akhir baris. Yakni huruf /a/, /i/, /u/, /e/, dan /o/.
Seperti halnya guru gatra, konvensi ini tidak dapat digantikan dengan negosiasi apapun. Kelima huruf vokal tersebut turut berperan dalam penentuan identifikasi judul tembang macapat.
Baca Juga: Inilah Perbedaan Gamelan Jawa Bernada Slendro dan Pelog, Siapa yang Tertua?
3. Guru Wilangan
Wilangan secara etimologis diartikan sebagai bilangan. Bilangan yang dimaksud adalah sejumlah suku kata yang terdapat pada satu baris (gatra).
Guru wilangan memiliki fungsi penting yang tidak dapat tergantikan oleh kesepakatan baru.
Sampai sekarang unsur tersebut masih tetap dipertahankan guna melestarikan dan menjaga keoriginalan suatu karya sastra warisan leluhur.