Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Malam 1 Suro Identik dengan Jamasan Pusaka, Alasannya di Luar Perkiraan

Dharaka R. Perdana • Minggu, 8 Juni 2025 | 06:08 WIB

Deretan pusaka mata tombak dari Purbalingga (langgalangitsore.blogspot.com)
Deretan pusaka mata tombak dari Purbalingga (langgalangitsore.blogspot.com)

TRENGGALEK NJENGGELEK - Para pemilik tosan aji atau pusaka selalu menyambut gembira menjelang malam 1 Suro.

Alasannya pada malam 1 Suro merupakan kesempatan untuk melakukan ritual jamasan pusaka. 

Tradisi yang telah berlangsung lama dalam budaya Jawa dan hampir selalu dilakukan menjelang malam 1 Suro.

Baca Juga: Masyarakat Jawa Percaya Bisa Bikin Sial, Ini Mitos dan Pantangan Malam 1 Suro

Tradisi ini melibatkan pembersihan atau pemandian benda pusaka seperti keris, tombak, dan senjata tradisional lainnya.

Tujuan dari ritual ini tidak hanya untuk merawat fisik benda pusaka, tetapi juga untuk menjaga dan memperkuat kekuatan spiritual yang melekat pada benda tersebut. 

Menurut masyarakat Jawa, benda pusaka dianggap memiliki "tuah" atau kekuatan spiritual yang dapat memberikan perlindungan dan berkah bagi pemiliknya.

Baca Juga: Malam 1 Suro 2025 Jatuh pada Tanggal Berapa? Berikut Ritual yang Dilakukan Masyarakat Jawa

Dengan melakukan jamasan, diyakini bahwa energi negatif atau pengaruh jahat yang mungkin melekat pada pusaka dapat dihilangkan, sehingga kekuatan positifnya tetap terjaga dan bahkan semakin kuat.

Ritual jamasan pusaka juga memiliki dimensi spiritual dan filosofis yang dalam. Proses pembersihan pusaka dianggap sebagai simbol dari pembersihan diri, introspeksi, dan penyucian hati.

Selain itu, jamasan juga merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah mewariskan pusaka tersebut sebagai bekal spiritual bagi keturunannya.

Baca Juga: Selalu Banyak Undangan, Ternyata Bulan Besar Jadi Pilihan Favorit Warga untuk Gelar Hajatan Pernikahan

Ritual jamasan pusaka biasanya dilakukan pada malam 1 Suro, yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah.

Proses ini melibatkan penggunaan bahan-bahan khusus seperti air kelapa, bunga, dan kadang-kadang bahan alami lainnya untuk membersihkan pusaka.

Setelah pembersihan, pusaka diberi perawatan tambahan seperti pelumuran dengan minyak khusus untuk menjaga keawetan dan kekuatan spiritualnya.

Meskipun zaman terus berkembang, tradisi jamasan pusaka tetap dilestarikan oleh masyarakat Jawa, baik di lingkungan keraton maupun di komunitas adat.

Baca Juga: Instrumen Gamelan Sudah Ada Sejak Era Hindu-Budha, Relief Candi Ini Buktinya

Beberapa keraton, seperti Keraton Yogyakarta dan Surakarta, secara rutin mengadakan jamasan massal pada setiap peringatan malam 1 Suro.

Acara ini biasanya terbuka untuk umum, sehingga masyarakat bisa menyaksikan langsung prosesi sakral ini dan mempelajari lebih dalam tentang kekayaan budaya dan spiritual Jawa.

Dengan demikian, jamasan pusaka pada malam 1 Suro bukan hanya sekadar pembersihan fisik benda pusaka, tetapi juga merupakan bentuk penghormatan, pelestarian budaya, dan penyucian spiritual yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat Jawa. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#masyarakat jawa #malam 1 suro #Jamasan Pusaka