Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Dilarang Menikah di Bulan Suro, Mitos atau Fakta pada Masyarakat Jawa?

Dharaka R. Perdana • Senin, 9 Juni 2025 | 03:33 WIB

Pernikahan merupakan sebuah hal yang -pantang dilakukan saat 1 Suro. (passionjewellery.co.id)
Pernikahan merupakan sebuah hal yang -pantang dilakukan saat 1 Suro. (passionjewellery.co.id)

TRENGGALEK NJENGGELEK - Bulan Suro menjadi salah satu bulan yang istimewa bagi masyarakat Jawa.

Tak mustahil masyarakat Jawa masih mempercayai sejumlah pantangan, salah satunya pantangan menggelar pernikahan saat bulan Suro tiba.

Bagi masyarakat Jawa, pernikahan bukan sekadar ikatan cinta, tetapi juga menyangkut adat, budaya, dan perhitungan waktu yang dipercaya membawa keberkahan. 

Baca Juga: Malam 1 Suro Identik dengan Jamasan Pusaka, Alasannya di Luar Perkiraan

Benarkah hal ini benar-benar dilarang di masyarakat Jawa?

Bulan Suro adalah bulan pertama dalam kalender Jawa, yang bersamaan dengan bulan Muharram dalam kalender Hijriah Islam.

Bulan ini dianggap suci dan penuh nuansa spiritual bagi masyarakat Jawa.

Baca Juga: Masyarakat Jawa Percaya Bisa Bikin Sial, Ini Mitos dan Pantangan Malam 1 Suro

Tak mustahil masyarakat Jawa menjadikan Bulan Suro sebagai waktu untuk menyepi, berdoa, serta melakukan tirakat demi keselamatan dan ketenangan batin.

Berikut ulasan mengenai istimewanya bulan Suro bagi masyarakat Jawa:

1. Bulan untuk Tirakat dan Ruwatan

Bulan Suro dipandang sebagai waktu untuk kegiatan spiritual seperti tirakat, semedi, dan ruwatan.

Baca Juga: Malam 1 Suro 2025 Jatuh pada Tanggal Berapa? Berikut Ritual yang Dilakukan Masyarakat Jawa

Karena sifatnya yang tenang dan sakral, acara besar seperti pernikahan yang bersifat meriah dianggap tidak sejalan dengan nuansa bulan ini.

2. Nuansa Duka dalam Sejarah Islam

Bulan Muharram dalam aliran Syiah dikenang sebagai bulan terjadinya tragedi Karbala.

Banyak masyarakat Jawa yang mengaitkannya sebagai waktu berkabung, sehingga menikah pada bulan ini dinilai kurang tepat secara spiritual dan budaya.

3. Diyakini Membawa Kesialan

Mitos yang berkembang menyebutkan bahwa pernikahan di Bulan Suro akan menghadapi banyak cobaan, tidak langgeng, atau membawa kesialan.

Meskipun tidak ada bukti ilmiah, kepercayaan ini tetap hidup di tengah masyarakat, terutama generasi yang memegang adat kuat.

4. Tidak Masuk Perhitungan Hari Baik

Dalam perhitungan weton Jawa, pemilihan hari baik pernikahan sangat diperhatikan.

Banyak orang tua atau sesepuh menghindari Bulan Suro saat menentukan hari pernikahan karena dianggap kurang membawa hoki atau keberkahan.

Secara agama Islam dan hukum negara, tidak ada larangan menikah di Bulan Suro.

Pantangan ini murni berdasarkan kepercayaan budaya Jawa.

Banyak pasangan modern yang tetap melangsungkan pernikahan di bulan ini tanpa mengalami masalah, selama mereka mantap dan siap secara lahir batin.

Tips Jika Ingin Menikah di Bulan Suro

1. Konsultasi dengan keluarga dan sesepuh agar tidak menimbulkan polemik.

2. Lakukan selametan atau doa bersama sebagai bentuk permohonan keselamatan.

3. Tetap pertimbangkan hari baik menurut perhitungan weton Jawa, jika keluarga masih meyakininya.

4. Yang terpenting adalah niat baik, kesiapan mental, dan spiritual dari kedua mempelai.

Menikah di Bulan Suro bukanlah hal yang terlarang, namun menjadi bagian dari tradisi dan kearifan lokal yang sebaiknya dipahami dan dihormati.

Keputusan akhir tetap ada di tangan pasangan dan keluarga. Yang paling penting adalah doa, kesiapan, dan komitmen membangun rumah tangga.

 

 

Editor : Dharaka R. Perdana
#masyarakat jawa #Pantangan #pernikahan #bulan Suro