TRENGGALEK NJENGGELEK - Setiap malam 1 Suro, masyarakat Jawa menjalankan tradisi spiritual yang sarat makna, yaitu jamasan pusaka.
Jamasan pusaka bukan sekadar membersihkan benda bertuah seperti keris, tombak, atau pedang yang dimiliki masyarakat Jawa.
Tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus menyucikan energi dalam pusaka tersebut.
Baca Juga: Berikut Contoh Doa Malam 1 Suro dalam Kejawen, Menyatu dengan Gusti di Tengah Sunyi
Jamasan pusaka dipercaya dapat menghilangkan aura negatif, menyegarkan kekuatan spiritual benda, dan mempererat hubungan batin antara pemilik dan pusaka.
Bagi Anda yang ingin melakukan penjamasan pusaka secara benar dan khusyuk, berikut ini adalah perlengkapan yang umum digunakan dalam tradisi penjamasan pusaka di malam 1 Suro:
Baca Juga: Berikut Ritual Masyarakat Jawa saat Malam 1 Suro, Nomor 3 Sering Dianggap Paling Berat
1. Air Kembang (Air Jamasan)
Campuran air bersih dengan berbagai bunga harum seperti melati, kenanga, mawar, dan kantil (bunga cempaka putih)
Air kembang digunakan untuk menyucikan pusaka dan membawa aroma spiritual yang menenangkan.
Baca Juga: Raja Besar Ini Jadi Peletak Dasar 1 Suro Penanggalan Jawa, Peninggalannya Terasa Hingga Kini
2. Wadah atau Bokor Tembaga
Wadah ini berfungsi sebagai tempat air kembang. Biasanya digunakan bokor kuningan atau baskom kaca untuk menjaga kesakralan proses.
3. Kain Putih atau Kain Mori
Digunakan untuk mengeringkan pusaka setelah dijamasi. Kain ini juga digunakan untuk membungkus pusaka setelah ritual selesai.
4. Minyak Pusaka
Setelah dijamasi, pusaka biasanya diolesi minyak agar tetap terjaga dari karat dan mempertahankan daya spiritualnya.
Jenis minyak yang sering digunakan seperti minyak melati, minyak cendana, dan minyak khusus keris seperti minyak jaipong atau majapahit
5. Dupa atau Kemenyan
Dibakar selama proses penjamasan untuk menciptakan suasana khusyuk dan sebagai media pembersihan energi gaib.
6. Kain Alas (Batik atau Mori)
Digunakan sebagai alas saat pusaka ditata. Motif batik tertentu seperti parang atau sidomukti dipercaya membawa perlindungan spiritual.
7. Doa atau Mantra
Doa-doa dalam bahasa Jawa atau wirid Islami biasa dibacakan selama proses penjamasan.
Intinya adalah niat yang tulus untuk membersihkan dan merawat pusaka.
Setelah semua perlengkapan tersedia, tentu dilanjutkan dengan menjamasi pusaka itu sendiri. Berikut urutannya:
a. Siapkan seluruh perlengkapan jamasan.
b. Duduk tenang, nyalakan dupa, dan bacakan doa.
c. Celupkan pusaka perlahan ke dalam air kembang sambil membersihkan dengan tangan atau kain lembut.
d. Keringkan pusaka dengan kain mori putih.
e. Oleskan minyak pusaka secara merata.
f. Bungkus kembali pusaka dan simpan di tempat khusus.