TRENGGALEK NJENGGELEK - Pitutur luhur tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa.
Pitutur luhur dalam masyarakat Jawa pada hakekatnya merupakan nilai luhur yang lahir dari bumi pertiwi, sebagai salah satu wujud kebudayaan bangsa.
Baca Juga: Kapan Malam 1 Suro 2025 Tiba? Ini Makna Weton dan Wuku yang Menaungi
Melalui penghayatan yang benar dan mempraktekkannya secara sungguh-sungguh maka akan terwujud sifat-sifat budi luhur seperti akan tampil sebuah kearifan.
Hal ini akan menjadikan manusia selalu dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa dan mampu mewujudkan kedamaian, kesejahteraan, keselamatan, dan keindahan dunia beserta seluruh isinya.
Dengan ketahanan budaya yang memadai, maka suatu bangsa akan mempunyai kemampuan untuk memilah dan memilih nilai budaya baru yang ditawarkan dalam pertemuan antar budaya.
Baca Juga: Setiap Weton yang Mengandung Unsur Senin Punya Kesempatan Bagus? Cek Sama-sama
Pada akhimya usaha penghimpunan Pitutur Luhur ini diharapkan dapat mendukung terpeliharanya kerukunan hidup bermasyarakat dan meningkatkan peradaban bangsa.
Berikut pitutur luhur masyarakat Jawa mengenai aspek Ketuhanan:
1. Aja Mangro Tingat, Aja Salah Cipta, lan Aja Mangeran Liya
Baca Juga: Intip Watak Baik dan Buruk Weton Senin, Apa yang Sebaiknya Dipahami?
Makna aja mangro tingal. aja salah cipta, lan aja mangeran liya adalah bahwa manusia tidak boleh menyekutukan Tuhan.
Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku dalam manembah, pikiran, perasaan, kemauan secara totalitas dipusatkan ke dalam Tuhan Yang Maha Esa Sikap dan perilaku tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan Tuhan Yang Maha Esa.
2. Ala lan Becik Iku Gegandhengan, Kabeh Kuwi saka Kersaning Pengeran
Makna ala lan becik iku gegandhengan, kabeh kuwi saka kersaning Pangeran adalah bahwa baik dan buruk sebagai satu
totalitas selamanya ada dalam diri seseorang, dan itu adalah kehendak Tuhan Yang Maha Esa.
Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku mengembangkan terus menerus kebaikan di manapun, kapanpun, dan dalam keadaan yang bagaimanapun, sehingga keburukan yang ada tidak mendapat kesempatan untuk tampil.
Sikap dan perilaku tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan Tuhan Yang Maha Esa dan sesamanya.
3. Alam Iki Sejatining Guru
Makna alam iki sejatining guru adalah sesungguhnya alam itu guru yang sejati, yang mewartakan kemahakuasaan, kemahasihan, kemahamurahan, kemahaadilan Tuhan Yang Maha Esa.
Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu mencintai alam tempat hidup dan yang menghidupi secara ragawi seseorang
Sikap dan perilaku tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan Tuhan Yang Maha Esa dan alam semesta.
4. Budha, Budhi, Jawa Jawi, Mata siji
Makna Budha, budhi, Jawa Jawi, mata siji adalah kesadaran bahwa keutamaan manusia adalah menggunakan akal budi, pengertian yang benar, dan mata batin dalam berbuat sesuatu.
Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu berpikir jemih dan berhati bersih.
Sikap dan perilaku tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan Tuhan Yang Maha Esa.
5. Eling
Makna Eling adalah kesadaran bahwa manusia harus berserah diri secara total kepada Tuhan Yang Maha Esa yang terwujud dalam bentuk perbuatan dan batin.
Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang taat beribadah sesuai dengan keyakinannya dan perilaku sesuai petunjuk yang telah diatur dalam ajaran masing-masing.
Sikap dan perilaku tersebut diterapkan dalam hubungan seseorang dengan Tuhan Yang Maha Esa.