TRENGGALEK NJENGGELEK - Saat seseorang menghadapi sebuah permasalahan hidup, keberadaan pitutur luhur bisa menjadi sebuah solusi dalam masyarakat Jawa.
Biasanya pitutur luhur didapat dari seseorang yang dianggap dituakan dan punya nasehat yang selalu dipatuhi.
Berikut lanjutan pitutur luhur yang bisa diresapi maknanya dalam aspek Ketuhanan.
Baca Juga: Lima Pitutur Luhur Masyarakat Jawa dalam Aspek Ketuhanan, Resapi Maknanya
1. Eling, Percaya, Mituhu
Makna Eling, Percaya, Mituhu adalah aktualnya kesadaran merasakan secara total keberadaan Tuhan Yang maha Esa dalam diri seseorang.
Karena hal ini melahirkan rasa percaya yang sungguh-sungguh kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan sekaligus melahirkan dinamika hidup sesuai dengan tuntunan-Nya.
Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu taat beribadah sesuai dengan keyakinan masing-masing dan berperilaku sesuai dengan aturan dan ajaran kepercayaan masingmasing.
Baca Juga: Dikenal Punya Daya Spiritualitas Tinggi, Ini Pantangan Pemilik Tulang Wangi pada Malam 1 Suro
2. Golek Sampurnaning Urip Lahir Batin lan Golek Kasampurnaning Pati.
Makna Golek Sampurnaning Urip Lahir Batin lan Golek Kasampurnaning Pati adalah kesadaran bahwa manusia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri untuk mencapai keselamatan baik di dunia maupun di akherat.
Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu bersemangat sesuai kemampuan, mensyukuri nikmat kemurahan Tuhan dalam bentuk apapun.
3. Gusti Anglimputi, Manungsa Linimputan
Makna Gusti Anglimputi, Manungsa Linimputan adalah Tuhan Yang Maha Esa ada di mana-mana, dan secara total ada di dalam semua ciptaan-Nya.
Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku mengembangkan kesadaran merasakan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa di dalam dirinya.
Sehingga dinamika hidupnya sepenuhnya berada dalam tuntunan-Nya.
4. Gusti Iku Cedhak Tanpa Senggolan, Adoh Tanpa wangenan
Makna Gusti iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan adalah Tuhan Yang Maha Esa itu ada secara total di dalam diri seseorang.
Namun tidak dapat dijangkau dengan daya pikir dan daya indera, Tuhan Yang Maha Esa sangat jauh tanpa batas dari diri seseorang.
Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku mengembangkan rasa yang telah lepas dari nafsu-nafsu agar mampu merasakan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa di dalam dirinya secara nyata, sehingga mampu hidup dalam tuntunanNya.
5. Gusti Iku Sambaten Nalika Sira Nandhang Kasengsaran lan Pujinen Yen Sira Lagi Nampa Kanugrahaning Pangeran
Maknanya adalah Tuhan Yang Maha Esa merupakan sumber cahaya pepadhang dan tempat puji syukur disampaikan seseorang.
Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku dalam duka maupun suka selalu manembah kepada Tuhan Yang Maha Esa Sikap.
Editor : Dharaka R. Perdana