TRENGGALEK NJENGGELEK - Malam 1 Suro kembali disambut khidmat oleh masyarakat Jawa dengan serangkaian ritual spiritual dan budaya.
Salah satu tradisi yang tak pernah absen pada malam 1 Suro adalah jamasan pusaka, yakni proses penyucian benda-benda warisan leluhur seperti keris, tombak, tosan aji, hingga batu mustika, menggunakan uba rampe khusus yang sarat makna.
Baca Juga: Mau Menjamasi Pusaka pada Malam 1 Suro? Perlengkapan Berikut Pantang Dilewatkan
Menjamasi pusaka menjelang malam 1 Suro membutuhkan uba rampe atau perlengkapan yang lumayan banyak.
Dalam pelaksanaan jamasan, warga menyiapkan uba rampe berupa air dari tujuh sumber mata air, bunga setaman (melati, kenanga, mawar, kantil), dan perasan jeruk nipis.
Baca Juga: Malam 1 Suro Identik dengan Jamasan Pusaka, Alasannya di Luar Perkiraan
Tidak ketinggalan minyak melati atau minyak cendana, kain mori putih, dupa atau kemenyan, serta sajen pelengkap seperti sego golong, kopi pahit, dan rokok klobot.
Uba rampe bukan sekadar alat bantu, tetapi juga simbol harmonisasi antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual.
Baca Juga: Dikenal Punya Daya Spiritualitas Tinggi, Ini Pantangan Pemilik Tulang Wangi pada Malam 1 Suro
Ritual jamasan dimulai dengan doa atau mantra, diikuti pembukaan warangka pusaka secara perlahan.
Pusaka kemudian disiram dengan air bunga, digosok halus, lalu dikeringkan dan diolesi minyak. Semua dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan ketulusan.
Baca Juga: Berikut Isi Maklumat Aman Suro 2025 yang Ditandatangani Perguruan Silat di Trenggalek
Warga juga menjunjung tinggi etika spiritual selama proses jamasan. Di antaranya tidak dilakukan dalam keadaan marah atau batin kotor, tidak dilakukan dengan sembarangan atau tanpa restu, dan idak boleh menggunakan air kotor atau asal-asalan
Selain itu, anak-anak dan perempuan haid biasanya tidak dilibatkan langsung dalam proses jamasan sebagai bentuk penghormatan terhadap kesucian ritual.
Tradisi jamasan pusaka pada malam 1 Suro membuktikan bahwa spiritualitas Jawa tak pernah lekang oleh zaman.
Di tengah arus modernisasi, warga tetap menjaga warisan leluhur ini dengan khusyuk dan penuh makna.
Lebih dari sekadar budaya, jamasan adalah bentuk tirakat dan penyucian diri yang mempererat hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan leluhurnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana