TRENGGALEK NJENGGELEK – Setiap datangnya bulan 1 Suro/Sura dalam penanggalan Jawa, masyarakat Jawa senantiasa menyambutnya dengan nuansa khidmat dan spiritual.
Tidak hanya melalui tirakat, doa, dan tapa brata, tetapi juga dengan cara sastra, salah satunya melalui tembang macapat.
Baca Juga: Jamasan Pusaka Lazim Dilakukan Jelang Malam 1 Suro, Ini Perlengkapan dan Etikanya
Tembang macapat adalah bentuk puisi tradisional Jawa yang sarat makna dan filosofi kehidupan.
Pada momentum malam 1 Suro, tembang ini menjadi media untuk merenung, menyucikan diri, sekaligus memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Berikut adalah contoh tembang Dhandhanggula yang menggambarkan suasana batin masyarakat Jawa dalam menyambut datangnya bulan Suro:
Baca Juga: Dikenal Punya Daya Spiritualitas Tinggi, Ini Pantangan Pemilik Tulang Wangi pada Malam 1 Suro
Sasi Sura wus ngancik,
Rina wengi suci wus rawuh,
Nalikane tirakatan,
Sembah sujud mring Kang Kuwasa,
Anggone nglempak karsa,
Resikan ati jiwa,
Sembah tapa brata,
Mrih padhang urip sabanjure,
Lir pepadang wulan purnama nyorot ati.
Baca Juga: Warga Bendorejo Trenggalek Gelar Kenduri Suran, Takir Plonthang Jadi Ciri Khas
Sing sira aja lali,
Lelakon iki ora sepele,
Wulan pisan kawitané,
Tuwuh wirang kang nora prayoga,
Nanging yen waspadha,
Tumrap ing jaman kitha,
Suro dadi cahya,
Kang nuntun urip becik mulya,
Ayo padha eling, ndedonga nuju rahayu.
Baca Juga: 5 Kriteria Orang yang Dilarang Kelayapan Keluar Rumah pada Malam 1 Suro, Nomor 2 Punya Tamu Bulanan
Tembang ini sarat makna. Bait pertama menggambarkan malam 1 Suro sebagai malam suci untuk introspeksi dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Bulan purnama menjadi simbol dari cahaya batin yang menyinari hati manusia dalam perjalanan spiritualnya.
Sementara bait kedua mengingatkan kita agar tidak melupakan bahwa bulan Suro adalah awal yang penting.
Dalam budaya Jawa, Suro sering dianggap penuh misteri, tetapi juga penuh hikmah bagi yang waspada dan eling. Jika dijalani dengan kesadaran spiritual, Suro justru membawa rahayu (keselamatan).
a. 1 Suro Bukan untuk Hura-Hura
Dalam tradisi Jawa, 1 Suro bukan waktu untuk pesta atau kemeriahan. Sebaliknya, ini adalah momen untuk tirakat, tapa brata, dan penyucian jiwa.
Banyak masyarakat melakukan ritual malam seperti tirakatan, doa, atau semedi untuk merenungi perjalanan hidup dan menyusun niat baru.
b. Pelestarian Budaya Lewat Tembang
Tembang macapat di atas tidak hanya memperkaya khazanah sastra Jawa, tapi juga menjadi sarana pelestarian nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal.
Generasi muda diharapkan bisa terus mengenal, memahami, dan melestarikan tembang-tembang penuh makna ini.
Editor : Dharaka R. Perdana