Trenggaleknjenggelek - Malam Satu Suro selalu identik dengan nuansa mistis dan spiritual dalam budaya Jawa.
Di balik ritual-ritual sakral seperti tirakat dan tapa bisu, terdapat berbagai mitos malam Satu Suro yang hingga kini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat.
Mitos ini berkembang bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk pengingat untuk hidup lebih berhati-hati dan penuh kesadaran.
Larangan Keluar Rumah Saat Malam Hari
Salah satu mitos paling populer adalah larangan keluar rumah saat malam hari. Banyak yang meyakini bahwa malam Satu Suro adalah waktu rawan gangguan gaib.
Aura malam ini dianggap kuat secara metafisik, sehingga orang dengan kondisi batin lemah bisa mengalami hal-hal di luar nalar.
Tidak Boleh Menggelar Hajatan
Mengadakan pesta pernikahan atau hajatan besar di malam ini dianggap tidak etis dan bisa mendatangkan sial.
Kepercayaan ini berakar pada anggapan bahwa malam Suro bukan waktu bersuka cita, melainkan waktu untuk kontemplasi dan penyucian diri.
Dilarang Berbicara Kasar
Berbicara kasar saat malam Satu Suro juga dipercaya bisa “berbuah nyata”, yakni apa yang diucapkan bisa menjadi kenyataan buruk.
Oleh karena itu, banyak orang yang menjaga ucapan dan emosi secara ekstra pada malam tersebut.
Pindah atau Membangun Rumah Dianggap Pamali
Mitos lain menyebutkan bahwa pindah rumah atau memulai pembangunan pada malam ini adalah tindakan pamali (pantangan). Tindakan besar seperti ini dianggap melawan suasana hening dan sakral malam Suro.
Weton Tertentu dan Tapa Bisu
Orang dengan weton tertentu disarankan tidak keluar rumah karena dinilai lebih sensitif terhadap gangguan gaib.
Selain itu, saat tapa bisu, orang-orang dilarang bicara maupun membuat keributan untuk menjaga ketenangan spiritual.
Makhluk Halus Dipercaya Berkeliaran
Malam Satu Suro disebut sebagai malam ketika makhluk halus berkeliaran. Seperti dikatakan oleh Galuh Kusuma Hapsari, peneliti budaya Jawa dari UNS, “Makhluk gaib mencari manusia yang lalai dalam eling lan waspada.” (sun)