Trenggaleknjenggelek – Memasuki datangnya bulan Suro, masyarakat pesisir di Kecamatan Watulimo dan Panggul, Kabupaten Trenggalek, kembali menggelar tradisi Labuh Laut atau larung Sembonyo. Kegiatan ini bukan hal baru, melainkan bagian dari tradisi suroan yang telah menjadi kebiasaan tahunan warga dalam menyambut Tahun Baru Jawa.
Labuh Laut dilaksanakan dengan melarung tumpeng raksasa dari nasi kuning yang dihiasi berbagai hasil bumi, serta sesaji berupa jajanan pasar ke tengah laut. Masyarakat meyakini prosesi ini sebagai wujud syukur atas limpahan rezeki dari laut, sekaligus permohonan keselamatan untuk tahun mendatang.
Dimana tradisi ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir. Setiap Suro, kita larung tumpeng sebagai bentuk penghormatan dan syukur kepada laut.
Sejak pagi, pelabuhan dipadati ribuan warga yang antusias menyaksikan jalannya prosesi. Tumpeng dan sesaji dibawa ke tengah laut menggunakan perahu slerek yang dihias khusus. Beberapa warga diperbolehkan ikut naik perahu, namun jumlahnya dibatasi demi keselamatan, dengan pengawalan petugas keamanan di setiap kapal.
Tradisi suroan seperti Labuh Laut ini bukan sekadar ritual spiritual, tetapi juga menjadi daya tarik budaya yang memperkuat rasa kebersamaan, melestarikan nilai leluhur, dan memperkuat identitas masyarakat pesisir Trenggalek.(jaz)