Trenggaleknjenggelek – Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro bukan sekadar awal tahun dalam penanggalan Jawa, tetapi juga momentum penuh makna spiritual dan historis. Dalam khazanah keislaman, bulan Suro sejatinya bersumber dari istilah Arab ‘Asyura—yang berarti tanggal sepuluh—yakni 10 Muharam. Dalam perkembangan sejarah, Suro ditetapkan sebagai bulan pertama dalam kalender Jawa-Islam yang digunakan secara turun-temurun hingga kini.
Namun, di balik makna suci bulan Muharam, ada kecenderungan menyimpang yang tumbuh di tengah masyarakat: mitos, legenda, bahkan praktik-praktik irasional yang mengaburkan pesan luhur bulan tersebut.
“Setiap malam 1 Suro, banyak warga justru datang ke tempat-tempat keramat, membakar kemenyan, meminta kekayaan, karir, jodoh, bahkan melempar sesaji ke laut,” kata Dr HM Zaidunndin MA sorang dosen dalam tulisannya di jurnal UIN Malang.
Padahal, jika menilik sejarah, bulan Muharam adalah bulan yang dimuliakan, yang sarat dengan peristiwa kenabian. Nabi Adam diterima taubatnya, Nabi Nuh selamat dari banjir besar, Nabi Musa lolos dari kejaran Fir’aun, hingga Nabi Muhammad SAW memperoleh wahyu yang menjadi pedoman hidup umat Islam sepanjang masa.
“Ini momentum sejarah,” tulis seorang peneliti budaya Islam, “yang seharusnya disambut dengan tafakur dan niat memperbaiki diri, bukan dengan larung kepala kerbau atau mandi di sungai demi awet muda.”
Ungkapan "mandi di malam 1 Suro", jika ditelaah secara simbolik, bukan berarti secara harfiah. Mandi adalah bentuk pensucian diri—membersihkan hati, niat, dan tindakan dari segala dosa dan keburukan. Inilah yang seringkali dilupakan oleh generasi sekarang.
Tahun baru hijriah melalui bulan Muharam sesungguhnya adalah ajakan untuk kembali ke jati diri spiritual: membangun peradaban diri, masyarakat, dan bangsa dengan nilai-nilai tauhid, etika, dan kesadaran sejarah. Islam pernah jaya karena umatnya memegang prinsip ilmu, amal, dan keadilan. Kini, momentum itu seolah berulang: kita diberi peluang untuk merebut kembali kejayaan, bukan dengan jimat atau ritual, tapi dengan semangat perubahan diri dan kesalehan sosial.
“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai mereka mengubah nasib mereka sendiri,” tulis Al-Qur’an, sebuah seruan yang semakin relevan di tengah tantangan modern.
Di tengah maraknya festival dan tradisi di bulan Suro, perlu ada upaya bersama untuk memurnikan kembali makna bulan ini—dari sekadar ritual ke arah transformasi spiritual dan historis. Sebab sejarah bukan untuk dikenang semata, melainkan untuk dihidupi dan diwariskan dalam bentuk nilai.
Sebagaimana doa yang sering dipanjatkan di awal Muharam:
“Allahumma thawwil a'marana wa shahhih ajsadana wa hassin a'malana wa ausi' arzaqana wa yassir umurana...”
Ya Allah, panjangkan umur kami, sehatkan jasad kami, baguskan amal kami, lapangkan rezeki kami, dan mudahkan segala urusan kami. Aamiin.(jaz)
Editor : Zaki Jazai