TRENGGALEK NJENGGELEK — Dalam sistem penanggalan Jawa, setiap tahun memiliki nama dan karakter unik yang berputar dalam siklus delapan tahunan (Windu).
Tahun-tahun tersebut adalah: Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Pada tahun 1959 Jawa, yang akan dimulai setelah 1 Suro tahun 1959, kalender memasuki Tahun Dal.
Baca Juga: Tak Perlu Takut Menikah di Bulan Suro, Ini Penjelasan Lengkap Menurut Islam
Tahun Dal dikenal sebagai salah satu tahun paling sakral dan berbobot dalam tradisi Jawa.
Tahun Dal 1959 Jawa dimulai pada 1 Suro, yang bertepatan dengan kalender Masehi sekitar 27 Juni 2025. Tahun ini berlangsung selama 354 atau 355 hari, tergantung sistem lunar yang digunakan.
Baca Juga: Diburu Kalangan Pesilat, Harga Pisang Raja di Trenggalek Melonjak saat Satu Suro
Tahun Dal dikenal sebagai tahun yang berat dan dalam secara spiritual. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, Tahun Dal diasosiasikan dengan waktu untuk ujian dan penyucian batin.
Selain itu munculnya banyak cobaan dalam skala pribadi maupun sosial dan kesempatan untuk memperkuat tirakat dan keteguhan hidup
Baca Juga: Bulan Suro, Momentum Refleksi: Dari Mitos Menuju Spirit Sejarah Kemanusiaan
Pemimpin spiritual dan orang bijak biasanya lebih banyak menyepi atau mengurangi tampil di publik selama Tahun Dal
“Dal” sendiri berarti dalam, berat, atau mendalam, sehingga masyarakat Jawa meyakini bahwa semua hal dalam tahun ini harus dijalani dengan penuh kewaspadaan dan perenungan.
Baca Juga: Ramai Soal Malam 1 Suro, Ini Asal Usul Penanggalan Kalender Jawa
Dalam sistem titen Jawa (ilmu membaca pertanda), Tahun Dal dianggap sebagai waktu yang penuh pertimbangan batin:
Tidak cocok untuk memulai sesuatu yang besar, seperti pernikahan, pindah rumah, atau proyek baru, kecuali dengan perhitungan matang.
Sangat dianjurkan untuk memperkuat laku prihatin, seperti puasa, semedi, tirakat malam Selasa Kliwon, Jumat Kliwon, dan terutama malam Suro.
Banyak orang tua Jawa menahan diri dari keputusan besar di Tahun Dal, dan lebih memilih memperkuat fondasi spiritual serta keluarga.
Seperti melakukan ritual penyucian diri dan pusaka, memperbanyak ziarah leluhur dan doa selamatan, serta tirakat dan doa rutin untuk keselamatan lahir batin
Editor : Dharaka R. Perdana