TRENGGALEK NJENGGELEK — Memasuki Tahun Dal 1959 dalam penanggalan Jawa yang bertepatan dengan 1 Suro pada 27 Juni 2025, masyarakat Jawa yang memegang teguh nilai-nilai spiritual dan budaya Kejawen mulai menjalankan tirakat dan doa-doa khusus.
Tahun Dal dipercaya masyarakat Jawa sebagai masa untuk memperdalam laku batin, menjauh dari hawa nafsu, serta memperbaiki relasi spiritual dengan Tuhan dan alam semesta.
Baca Juga: Bulan Suro, Momentum Refleksi: Dari Mitos Menuju Spirit Sejarah Kemanusiaan
Dalam siklus Windu Jawa yang terdiri dari delapan tahun (Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jimakir), Tahun Be berada di posisi keenam.
Tahun Dal dikenal memiliki energi khas yang mendorong manusia untuk introspeksi, menahan diri, dan menyucikan batin.
Baca Juga: Ramai Soal Malam 1 Suro, Ini Asal Usul Penanggalan Kalender Jawa
Tahun Dal juga merupakan masa yang sangat baik untuk menata ulang niat hidup dan menjalani laku prihatin.
Berbagai jenis tirakat dilakukan masyarakat Jawa sepanjang tahun Dal antara lain:
Baca Juga: Mitos Malam Satu Suro: Larangan yang Masih Dipercaya! Apa Kata Peneliti Budaya Jawa UNS?
1. Tirakat Mutih
Makan nasi putih dan air putih, tanpa lauk atau bumbu, selama beberapa hari. Bertujuan menyucikan hawa nafsu.
2. Tapa Bisu
Tidak berbicara selama 12–24 jam sebagai bentuk pengendalian diri dan fokus batin.
3. Kungkum (Berendam di Sungai atau Sendang)
Biasanya dilakukan menjelang subuh, dengan separuh tubuh terendam di air sebagai simbol pembersihan lahir batin.
4. Puasa Senin-Kamis dan Weton
Dijalani rutin untuk memperkuat spiritualitas dan perlindungan diri.
5. Ziarah ke Makam Leluhur
Untuk mendoakan dan menyambung ikatan spiritual dengan para pendahulu.
Semua tirakat ini dilandasi oleh niat tulus dan ketekunan, bukan untuk mengejar kekuatan gaib, melainkan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Selain tirakat, doa-doa khusus juga diamalkan oleh masyarakat Jawa selama Tahun Be. Salah satunya adalah doa penenang hati dan permohonan perlindungan batin:
“Ya Gusti Kang Murbeng Dumadi, kawula nyuwun pepadang lan katulusan manah.
Ing taun Dal niki, mugi kawula diparingi pangayoman, katentreman, lan kawruh sejati.”
Terjemahan:
“Wahai Tuhan Pencipta Alam, hamba memohon petunjuk dan ketulusan hati.
Di tahun Dal ini, semoga hamba diberi perlindungan, ketentraman, dan pengetahuan sejati.”
Doa ini biasanya dibaca menjelang malam hari, saat memulai tirakat, atau setelah semedi.****