TRENGGALEK NJENGGELEK - Dalam sistem penanggalan Jawa, setiap tahun memiliki karakter dan energi tersendiri. Salah satu tahun yang paling sakral dan banyak diperhatikan oleh masyarakat adat adalah Tahun Dal.
Tahun Dal diyakini sebagai waktu penuh ujian batin dan cobaan hidup, sehingga terdapat banyak larangan dan pantangan yang harus dipatuhi untuk menjaga keselamatan lahir batin.
Baca Juga: Penanggalan Jawa Kali Ini Masuk Tahun Dal 1959, Apa Maknanya?
Tahun Dal muncul setiap delapan tahun sekali dalam siklus Windu Jawa (Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jimakir).
Tahun Dal dikenal dengan karakter spiritual yang berat, “dalam”, dan wingit, sehingga tidak semua aktivitas dianjurkan dilakukan selama tahun ini.
Berikut ini adalah daftar pantangan yang diyakini turun-temurun oleh masyarakat Jawa, terutama mereka yang masih memegang nilai-nilai Kejawen:
Baca Juga: Tak Perlu Takut Menikah di Bulan Suro, Ini Penjelasan Lengkap Menurut Islam
1. Menikah di Tahun Dal Tanpa Perhitungan Weton
Tahun Dal bukan tahun yang baik untuk melangsungkan pernikahan sembarangan. Masyarakat percaya bahwa pernikahan di tahun Dal rawan cekcok dan kesialan rumah tangga
Jika sangat mendesak, maka wajib dilakukan perhitungan hari baik (titen) dan selamatan khusus
2. Pindah Rumah atau Mendirikan Rumah Baru
Pindah rumah atau membangun rumah baru di tahun Dal dianggap mengusik energi spiritual tanah.
Baca Juga: Bulan Suro, Momentum Refleksi: Dari Mitos Menuju Spirit Sejarah Kemanusiaan
Konon, bisa memicu gangguan gaib, rejeki seret, atau kesialan mendadak. Jika terpaksa, warga dianjurkan melakukan ruwatan atau selametan bumi
3. Membuka Usaha Besar atau Proyek Baru
Dalam kepercayaan Kejawen, memulai usaha besar di tahun Dal berisiko mengalami kerugian besar, gagal di tengah jalan
Gangguan energi yang membuat usaha sulit berkembang
4. Menggelar Hajat Besar Tanpa Ruwatan
Acara besar seperti mantu, khitanan, atau hajatan lain harus dibarengi dengan doa keselamatan atau selamatan khusus.
Jika tidak, dikhawatirkan akan menarik sengkolo (energi negatif atau kesialan)
5. Menyepelekan Pusaka atau Warisan Leluhur
Tahun Dal adalah waktu yang sangat sensitif terhadap sikap terhadap pusaka atau warisan leluhur.
Jangan menyimpan pusaka sembarangan maupun berbicara sembarangan tentang leluhur. Selain itu hindari memindahkan benda keramat tanpa ritual atau izin
6. Mengabaikan Laku Spiritual
Masyarakat Kejawen dianjurkan untuk meningkatkan laku prihatin di Tahun Dal, seperti puasa Senin-Kamis, mutih, atau tapa bisu, dan lain sebagainya.
Mengabaikan laku ini dapat membuat seseorang mudah dikuasai hawa nafsu atau emosi buruk, serta jauh dari tuntunan batin.
Tujuan Adanya Pantangan Tahun Dal
Larangan-larangan ini bukan sekadar mitos, melainkan bagian dari sistem titen (ilmu membaca pertanda) yang diwariskan leluhur Jawa.
Tujuannya adalah menyelaraskan hidup dengan energi waktu dan alam, menghindari gangguan batin dan bencana spiritual, dan mengajarkan manusia untuk merenung dan tidak serakah.
Editor : Dharaka R. Perdana