TRENGGALEK NJENGGELEK - Menjelang hingga memasuki bulan Suro penanggalan Jawa, tak sedikit pemilik tosan aji melakukan jamasan pusaka.
Dalam konteks jamasan pusaka, terutama keris dan tosan aji, warangan memiliki fungsi yang sangat penting, baik dari sisi fisik (perawatan logam) maupun spiritual (penguatan energi pusaka).
Warangan adalah zat kimia beracun yang biasanya berbentuk serbuk atau cairan, berwarna abu-abu kehijauan atau kuning kemerahan.
Secara kimia, warangan mengandung arsenik, biasanya dalam bentuk arsenikum trioksida (As₂O₃) yang sangat beracun.
Dalam praktik tradisional Jawa, warangan sering dicampur dengan bahan alami seperti jeruk nipis, belerang, air kelapa, abu gosok, dan terkadang ditambahkan daun tertentu untuk menetralkan atau memperkuat efeknya
Baca Juga: Tak Perlu Takut Menikah di Bulan Suro, Ini Penjelasan Lengkap Menurut Islam
Berikut fungsi warangan dalam menjamasi pusaka
1. Menegaskan Pamor Bilah Pusaka
Pamor adalah pola alami dari logam yang berbeda dalam bilah keris atau pusaka lainnya. Saat dijamasi, warangan dioleskan atau direndamkan ke bilah pusaka.
Reaksi kimia antara warangan dan logam menghasilkan kontras warna gelap dan terang yang membuat pamor lebih jelas dan menonjol.
Baca Juga: Jangan Lakukan 6 Hal Berikut pada Tahun Dal Penanggalan Jawa, Siap Menanggung Risiko?
Pamor yang tampak terang dan hidup dipercaya sebagai indikator pusaka yang “aktif” atau “isi” secara spiritual.
2. Melindungi Bilah dari Karat
Warangan memiliki sifat antikorosi. Saat diaplikasikan, ia membentuk lapisan pelindung tipis di permukaan logam. Lapisan ini membantu menjaga keutuhan fisik pusaka dari lembab dan udara terbuka.
Digunakan bersamaan dengan minyak pusaka (seperti minyak cendana, melati, atau khusus), hasilnya maksimal dalam perawatan jangka panjang.
3. Mengaktifkan Energi Batin Pusaka
Dalam kepercayaan Kejawen, pusaka bukan hanya benda mati, tapi menyimpan “isi” atau daya gaib.
Warangan dipercaya sebagai medium untuk menghidupkan aura pusaka, membersihkan energi negatif.
Selain itu juga menguatkan “tuah” atau fungsi spiritualnya, seperti pengayom, pelindung, atau penarik rezeki
Oleh sebab itu, warangan tidak sembarang digunakan, biasanya hanya oleh empu, juru rawat pusaka, atau spiritualis yang paham etika dan caranya.
4. Bagian dari Laku Tirakat Menjamasi
Proses jamasan pusaka (terutama pada malam 1 Suro) bukan sekadar pembersihan, tapi laku spiritual.
Warangan digunakan dengan niat dan doa, sehingga bukan hanya zat kimia, tapi bagian dari sarana penyatuan antara manusia-pusaka-leluhur. Biasanya disertai mantra, dupa, dan uba rampe lainnya.
Editor : Dharaka R. Perdana